Studi mengungkap, sekitar 32.000 tahun silam, manusia prasejarah bersaing dengan beruang demi mendapat tempat tinggal. Seperti apa?
Studi manusia gua juga memberi pencerahan pada seni zaman gua yang menggambarkan binatang-binatang besar dan kemudian beruang punah. Petunjuk misteri ini berasal dari 30-32 ribu tahun lalu.
Saat itu, manusia dan beruang hidup di dua gua Prancis dan menciptakan pertarungan manusia-beruang. “Manusia paleolitik terbiasa membunuh binatang besar selama perburuan mereka, jadi mereka bisa dengan muda membunuh beruang gua,” ungkap penulis studi Celine Bon.
Genetik menunjukkan, kebanyakan beruang gua adalah vegetarian, “Mereka menjadi ganas jika ada yang menganggu mereka selama hibernasi atau mereka merasa takut,” lanjut Bon yang juga peneliti di Institute of Bology and Technology di Saclay, Perancis.
Di kondisi seperti itu, beruang bisa sangat berbahaya karena ukuran besar dan cakar serta gigi tajamnya. Melalui analisa DNA, diketahui populasi beruang gua sangat kecil dan terisolasi, dan kemungkinan beruang mati tak lama setelah manusia muncul.
“Data kami menunjukkan, populasi kecil beruang di gua dikuasai manusia,” tambahnya. Bon dan rekan berharap, studi lebih lanjut bisa memberi kepastian kapan beruang-beruang ini punah.
Studi ini diterbitkan di Journal of Archeological Science.
Tampilkan postingan dengan label ancient. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ancient. Tampilkan semua postingan
Jumat, 29 April 2011
Rabu, 20 April 2011
Fosil Golden Orb Weaver yang Pernah Menguasai Bumi
Ilmuwan menemukan fosil laba-laba prasejarah terbesar yang pernah menguasai Bumi. Fosil itu awet selama 165 juta tahun sehingga dengan mudah diidentifikasikan sebagai hewan betina dewasa.
Laba-laba bernama Golden Orb Weaver atau Nephila jurassica itu ditemukan di hutan tropis China, kawasan Daohugou.
Ahli paleontologi dari Kansas University, Profesor Paul Selden, mengatakan bahwa laba-laba betina itu memiliki panjang tubuh sekitar dua inci dan rentang kaki sekitar enam inci. Di sisi lain, laba-laba jantan diperkirakan memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil.
Laba-laba merupakan hewan yang sering ditemui di daerah tropis dan subtropis. Biasanya, laba-laba betina akan membuat tenunan jaring sutra bewarna kuning yang akan berkilau seperti emas jika terkena sinar matahari.
“Kami mendeskripsikan penemuan tersebut seabgai fosil laba-laba terbesar di dunia. Seekor betina Nephila dari zaman Jurrasic di kawasan China,” ujar Profesor Selden yang melaporkan studi tersebut di jurnal Biology Letters.
Ilmuwan melakukan pemeriksan mikroskopis untuk memastikan jenis laba-laba yang sudah ‘membatu’ bersama dengan fosil salamander dan krustasea air.
sumber : teknologi.inilah.com
Laba-laba bernama Golden Orb Weaver atau Nephila jurassica itu ditemukan di hutan tropis China, kawasan Daohugou.
Ahli paleontologi dari Kansas University, Profesor Paul Selden, mengatakan bahwa laba-laba betina itu memiliki panjang tubuh sekitar dua inci dan rentang kaki sekitar enam inci. Di sisi lain, laba-laba jantan diperkirakan memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil.
Laba-laba merupakan hewan yang sering ditemui di daerah tropis dan subtropis. Biasanya, laba-laba betina akan membuat tenunan jaring sutra bewarna kuning yang akan berkilau seperti emas jika terkena sinar matahari.
“Kami mendeskripsikan penemuan tersebut seabgai fosil laba-laba terbesar di dunia. Seekor betina Nephila dari zaman Jurrasic di kawasan China,” ujar Profesor Selden yang melaporkan studi tersebut di jurnal Biology Letters.
Ilmuwan melakukan pemeriksan mikroskopis untuk memastikan jenis laba-laba yang sudah ‘membatu’ bersama dengan fosil salamander dan krustasea air.
sumber : teknologi.inilah.com
Minggu, 17 April 2011
Misteri Evolusi Tanaman Bunga Darwin Terpecahkan
Studi baru menyatakan, evolusi dan diversifikasi lebih dari 300.000 spesies bunga bisa jadi muncul ‘terlalu dini’ dibanding perkiraan. Seperti apa?
Menurut profesor biologi dePamphilis Claude di Penn State University, dua gejolak besar dalam genom tanaman terjadi ratusan juta tahun silam, hampir 200 juta tahun lebih awal dari perkiraan kelompok penelitian lain.
Studi ini juga menunjukkan, gejolak itu menghasilkan ribuan gen baru yang bisa membantu mendorong ledakan evolusioner mengarah pada keragaman tanaman berbunga saat ini.
Studi yang menyediakan banyak data genetik baru dan skala waktu evolusi yang lebih tepat ini diharapkan bisa mengubah cara pandang ahli biologi melihat spesies tanaman, khususnya tanaman berbunga.
“Kami mulai dengan beberapa studi intens detektif genom pada Ancestral Angiosperm Genome Project (AAGP) yang telah dikumpulkan dari garis keturunan paling awal tanaman berbunga yang masih hidup,” kata dePamphilis.
Pada titik tertentu sejarah kuno, satu atau lebih metamorfosis genetik terjadi pada tanaman berbunga. Metamorfosis ini bisa menjelaskan keberhasilan begitu banyak spesies hidup di bumi saat ini. “Hal terpenting, kami menduga perubahan penting ini didorong mekanisme umum, bukan peristiwa independen,” lanjutnya.
Setelah memeriksa volume bukti molekuler, tim menemukan dan menghitung kapan terjadinya mutasi DNA khusus jenis mutasi yang merevolusi keturunan tanaman berbunga. “Peristiwa poliploidi ini pada dasarnya merupakan akuisisi melalui mutasi ‘dosis ganda’ bahan genetik,” jelas mahasiswa pascasarjana dan penulis studi Yuannian Jiao.
Pada vertebrata, meski duplikasi genom terjadi, hal itu umumnya mematikan. Di sisi lain, tanaman seringkali bertahan hidup dan terkadang bisa mendapat keuntungan dari genom yang digandakan, ungkap Jiao.
Jiao menjelaskan, selama beberapa generasi, gen yang paling banyak digandakan melalui poliploidi hilang begitu saja. Namun, gen lain yang mengadopsi fungsi-fungsi baru ini membagi ‘beban kerja’ dengan segmen genetik yang diduplikasi. Alhasil, pembudidayaan menjadi lebih efisiensi dan mengkhususkan tugas genom.
Jiao juga menjelaskan, meski peristiwa poliploidi kuno didokumentasikan dengan baik dalam proyek sekuens tanaman genom, ahli biologi memperkirakan poliploidi terawal pada tanaman berbunga terjadi sekitar 125-150 juta tahun silam. “ Ada indikasi terjadinya peritiwa ini namun tak ada bukti,” kata Jiao.
Hal inilah yang membuat temuan tim ini menarik. Tim mengidentifikasi dua peristiwa besar, leluhur semua tumbuhan berbiji sekitar 320 juta tahun silam dan terjadinya keturunan tanaman berbunga khusus sekitar 192-210 juta tahun silam. “Peristiwa ini terjadi 200 juta tahun lebih awal dari kejadian seperti diasumsikan,” katanya.
Peristiwa poliploidi mungkin diatur dalam gerakan semacam kebangkitan genomik dan memunculkan varietas masa kini, tambah dePamphilis. “Berkat peristiwa semacam ini, DNA berhasil diduplikasi dan ditambahkan pada genom dan membuat tanaman berbunga mampu berkembang lebih baik. Tanaman ini mendapat kesempatan menjadi sangat beragam, indah, dan umum,” kata dePamphilis.
Tim dePamphilis mengaku menelusuri sejarah beberapa gen utama untuk menentukan cara kerja tanaman berbunga. Berkat dua peristiwa poliploidi, tim mengidentifikasi tanaman berbunga menikmati keuntungan evolusi yang berbeda untuk hidup pada perubahan iklim yang keras, bahkan dari kepunahan massal.
Peristiwa kepunahan massa binatang dan tumbuhan 65,5 juta tahun silam mungkin memicu dampak asteroid besar ini, lanjutnya. “Sejak Charles Darwin menyebut diversifikasi tanaman berbunga dalam rekaman fosil ‘misteri’, generasi ilmuwan berusaha keras memecahkan teka-teki tersebut,” kata dePamphilis.
Tim mengatakan, ratusan ribu spesies tanaman berbunga berhasil menunjukkan jejak genetik peristiwa poliploidi kuno. “Makin jauh kita mendorong kapan terjadinya peristiwa itu, kami makin yakin mengklaim semua tanaman berbunga merupakan hasil duplikasi skala besar genom”.
Terdapat kemungkinan, peristiwa poliploidi setara dua ‘big bang’ untuk tanaman berbunga, tambahnya. Temuan studi ini diterbitkan dalam jurnal ‘Nature’
sumber : teknologi.inilah.com
Menurut profesor biologi dePamphilis Claude di Penn State University, dua gejolak besar dalam genom tanaman terjadi ratusan juta tahun silam, hampir 200 juta tahun lebih awal dari perkiraan kelompok penelitian lain.
Studi ini juga menunjukkan, gejolak itu menghasilkan ribuan gen baru yang bisa membantu mendorong ledakan evolusioner mengarah pada keragaman tanaman berbunga saat ini.
Studi yang menyediakan banyak data genetik baru dan skala waktu evolusi yang lebih tepat ini diharapkan bisa mengubah cara pandang ahli biologi melihat spesies tanaman, khususnya tanaman berbunga.
“Kami mulai dengan beberapa studi intens detektif genom pada Ancestral Angiosperm Genome Project (AAGP) yang telah dikumpulkan dari garis keturunan paling awal tanaman berbunga yang masih hidup,” kata dePamphilis.
Pada titik tertentu sejarah kuno, satu atau lebih metamorfosis genetik terjadi pada tanaman berbunga. Metamorfosis ini bisa menjelaskan keberhasilan begitu banyak spesies hidup di bumi saat ini. “Hal terpenting, kami menduga perubahan penting ini didorong mekanisme umum, bukan peristiwa independen,” lanjutnya.
Setelah memeriksa volume bukti molekuler, tim menemukan dan menghitung kapan terjadinya mutasi DNA khusus jenis mutasi yang merevolusi keturunan tanaman berbunga. “Peristiwa poliploidi ini pada dasarnya merupakan akuisisi melalui mutasi ‘dosis ganda’ bahan genetik,” jelas mahasiswa pascasarjana dan penulis studi Yuannian Jiao.
Pada vertebrata, meski duplikasi genom terjadi, hal itu umumnya mematikan. Di sisi lain, tanaman seringkali bertahan hidup dan terkadang bisa mendapat keuntungan dari genom yang digandakan, ungkap Jiao.
Jiao menjelaskan, selama beberapa generasi, gen yang paling banyak digandakan melalui poliploidi hilang begitu saja. Namun, gen lain yang mengadopsi fungsi-fungsi baru ini membagi ‘beban kerja’ dengan segmen genetik yang diduplikasi. Alhasil, pembudidayaan menjadi lebih efisiensi dan mengkhususkan tugas genom.
Jiao juga menjelaskan, meski peristiwa poliploidi kuno didokumentasikan dengan baik dalam proyek sekuens tanaman genom, ahli biologi memperkirakan poliploidi terawal pada tanaman berbunga terjadi sekitar 125-150 juta tahun silam. “ Ada indikasi terjadinya peritiwa ini namun tak ada bukti,” kata Jiao.
Hal inilah yang membuat temuan tim ini menarik. Tim mengidentifikasi dua peristiwa besar, leluhur semua tumbuhan berbiji sekitar 320 juta tahun silam dan terjadinya keturunan tanaman berbunga khusus sekitar 192-210 juta tahun silam. “Peristiwa ini terjadi 200 juta tahun lebih awal dari kejadian seperti diasumsikan,” katanya.
Peristiwa poliploidi mungkin diatur dalam gerakan semacam kebangkitan genomik dan memunculkan varietas masa kini, tambah dePamphilis. “Berkat peristiwa semacam ini, DNA berhasil diduplikasi dan ditambahkan pada genom dan membuat tanaman berbunga mampu berkembang lebih baik. Tanaman ini mendapat kesempatan menjadi sangat beragam, indah, dan umum,” kata dePamphilis.
Tim dePamphilis mengaku menelusuri sejarah beberapa gen utama untuk menentukan cara kerja tanaman berbunga. Berkat dua peristiwa poliploidi, tim mengidentifikasi tanaman berbunga menikmati keuntungan evolusi yang berbeda untuk hidup pada perubahan iklim yang keras, bahkan dari kepunahan massal.
Peristiwa kepunahan massa binatang dan tumbuhan 65,5 juta tahun silam mungkin memicu dampak asteroid besar ini, lanjutnya. “Sejak Charles Darwin menyebut diversifikasi tanaman berbunga dalam rekaman fosil ‘misteri’, generasi ilmuwan berusaha keras memecahkan teka-teki tersebut,” kata dePamphilis.
Tim mengatakan, ratusan ribu spesies tanaman berbunga berhasil menunjukkan jejak genetik peristiwa poliploidi kuno. “Makin jauh kita mendorong kapan terjadinya peristiwa itu, kami makin yakin mengklaim semua tanaman berbunga merupakan hasil duplikasi skala besar genom”.
Terdapat kemungkinan, peristiwa poliploidi setara dua ‘big bang’ untuk tanaman berbunga, tambahnya. Temuan studi ini diterbitkan dalam jurnal ‘Nature’
sumber : teknologi.inilah.com
Langganan:
Postingan (Atom)


