Tampilkan postingan dengan label business wisdom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label business wisdom. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 April 2011

Selalu ada Luka dalam Kehidupan Orang Sukses.

Orang Sukses adalah Orang yang Pernah Terluka.
Pemikiran ini lama ada dalam benak saya. Setelah melihat banyak kehidupan dan jalan hidup orang yang sukses, selalu saya lihat ada "luka" besar dalam kehidupannya.

Memang orang hidup tidak pernah semuanya enak, nikmat, dan lancar. Selalu ada saja yang tidak pas, yang tidak enak, dan yang menyesakkan. Dan untuk orang yang jadi sukses, hal ini,"luka" yang dalam, selalu ada yang cukup besar, dan membekas.
Luka ini dapat berupa kegagalan hingga bangkrut, dapat berupa kecelakaan kesehatan, dapat berupa hancurnya rumah tangga, dapat berupa anaknya yang tersesat, dapat berupa tertipunya oleh orang yang paling dipercaya, ataupun dapat pula berupa kekacauan kehidupan pribadinya.

Kesuksesan selalu punya harga yang harus dibayar. Oran yang super sibuk sukes, mulai dari Boss Microsoft Bill Gates, atau Boss CNN Ted Turner, atau Albert Enistein, atau siapapun itu, selalu punya "luka" yang jarang dapat diketahui orang luar. Orang luar hanya melihat "enak"nya saja.

Semua orang sukses terlihat enak, nyaman, kaya, baik, tanpa masalah. Itu tidak benar, orang sukses selalu mempunyai masalah dalam hidupnya. Apapun bentuk masalahnya.

Kalau anda mengalami hal yang tidak enak, ada luka dalam hidup anda, itu adalah sebuah hal biasa yang harus anda hadapi dengat tegar tapi bukan sesuatu yang perlu anda ratapi terus menerus.

Dalam kehidupan ber keluarga, juga selalu ada saja problem nya, dari urusan cinta, atau selingkuh suami istri, atau mertua yang tidak cocok, atau family yang selalu minta tolong dan merepotkan, atau tidak bisa punya anak, atau keuangan yang sulit, atau kesehatan, selalu ada bahan ketidak cocokan yang menyesakkan. Sakit, keuangan, pekerjaan, serta beban hidup lainnya, dan sepertinya tidak ada habisnya.

Tapi kalau kita mau memahami, bahwa inilah hidup, inilah kenyataan, yang perlu kita hadapi dan jalani. Maka semuanya akan dapat kita hadapi, betapapun tidak enaknya.

Orang yang sukses, selalu punya luka yang dalam. Orang yang tidak suksespun juga punya luka dalam hidupnya. Semua orang selalu punya luka, besar atau kecil, dan apakah sudah tersembuhkan atau belum.

Kesadaran ini yang akan menguatkan kita menghadapi kesulitan dan membuat kita menjadi lebih "kuat" dalam kehidupan kita. Semoga ini menyadarkan dan menguatkan kehidupan anda. Sukses untuk Anda(by : Tanadi santoso)

Rabu, 06 April 2011

Visualisasi

Visualisasi atau bagaimana anda bisa membayangkan sesuatu dengan sangat kuat adalah alat yang sangat berguna bagi para praktisi psikologi untuk mengubah seseorang maupun memotivasi seseorang. Dalam meraih sukses, kita juga harus bisa memanfaatkan alat praktis yang sederhana ini.

Begitu pentingnya kemampuan imajinasi anda ini sehingga Albert Einstein pernah berkata, "Imagination is everything. It is the preview of life coming attraction". Imajinasi adalah segalanya, imajinasi adalah gambaran akan kehidupan yang akan datang.
Kita harus bisa membayangkan apa yang kita inginkan dengan setepat mungkin. Misalnya saja anda menginginkan sebuah rumah mewah. Bayangkanlah seberapa besar rumah yang anda inginkan itu. Bayangkan bagaimana bentuk bangunannya. Bayangkan bagaimana taman - tamannya tertata rapid dan apik. Bayangkan apa saja yang ada di rumah itu. Berapa ruangan yang ada dan untuk apa saja.

Gunakan imajinasi anda dengan tepat. Bayangkan dengan jelas apa yang ingin anda raih, bagaimana anda akan meraihnya, dan kapan anda akan meraihnya. Tuliskan dan buat daftar, taruh gambarnya di meja kerja anda, usahakan anda selalu bisa melihat apa yang ingin anda raih.

Semakin jelas bayangan yang anda lihat, semakin dekat anda dengan tujuan anda. Hal ini dikarenakan visualisasi akan memacu daya kreativitas anda. Visualisasi memacu kemampuan anda untuk berpikir dengan lebih kreatif dan membuat keinginan kita terasa lebih nyata. Akibatnya, kita bisa merasakan kebutuhan - kebutuhan yang perlu kita penuhi untuk meraih impian kita itu.

Visualisasi yang kuat secara tidak langsung menarik orang lain untuk mendekat. Misalnya saja kita berkata kalau kita ingin menjalankan sebuah bisnis. Bila kita bisa menceritakan keinginan kita ini dengan detail pada orang lain, mungkin saja dia kan tertarik dan akhirnya menjadi rekanan kita.

Kemampuan kita untuk memvisualisasi sesuatu dengan kuat dan tepat apa yang kita inginkan akan sangat penting bagi kehidupan kita. Bila anda bisa membayangkan dengan akurat, anda pasti akan bisa meraihnya juga! Apapun yang anda inginkan, apakah itu rumah mewah, mobil mewah, mendapat promosi, dan lain sebagainya, cobalah untuk membayangkannya dengan mendetail dan rasakan bagaimana sensasinya saat hal itu benar - benar anda dapatkan.

Manfaatkanlah kekuatan visualisasi ini juga untuk membantu anda dalam meraih apapun dalam hidup ini yang anda inginkan. Dalam lagu I Believe I Can Fly, salah satu text nya berkata, "If I can see it, then I can do it. If I just believe it, there's nothing to it". Bila anda bisa melihatnya, anda bisa meraihnya. Bila anda percaya, tidak ada yang bisa menghalangi anda.

Jadi, gunakanlah imajinasi anda ini dengan baik. Anda bisa meraih apapun yang anda inginkan sepanjang anda bisa melihatnya dengan jelas. (by: Tanadi Santoso)

Selasa, 05 April 2011

Tentukan Pilihan Tujuan Hidup

Berapa kali dalam hidup kita berkata 'sembarang' bila ditanya suatu pilihan ? Mungkin beberapa kali, sering atau bahkan kerap kali. Nah, seharusnya kita menghindari jawaban 'sembarang' ini. Kenapa ?

Ada sebuah cerita lucu. Ada seorang teman datang berkunjung ke Surabaya menemui saya. Lalu saya ajak jalan-jalan melihat kota. Saya tanyakan mau ingin ke mana. "Sembarang ke mana saja boleh," jawabnya.

Karenanya saya kemudian arahkan mobil ke sebuah kuburan. "Nah sampai", kata saya. "Lho apa ini ? Kenapa kok ke sini ?" tanyanya. "Kuburan. Lha katanya tadi sembarang. Makanya saya ajak ke kuburan, siapa tahu ingin nyekar," seloroh saya.

Nah, ini sesuatu yang menarik. Ketika kita berkata 'sembarang', apa saja boleh, maka kita sudah melepaskan hak kita untuk tujuan dan maksud hidup kita. Hal ini tidak benar. Kadang kita tidak terlalu mau tahu tujuan hidup kita. Ya pokoknya jalan atau mengalir. Apa kata nanti saja.

Sebuah cerita lain. Ada teman dari Norwegia datang ke Surabaya. Lalu saya ajak makan. Karena sudah datang jauh-jauh dari Norwegia ke Surabaya, saya bermaksud mengajak makan siang yang enak. Saya tanya mau makan apa. Jawabnya, "Sembarang, apa-apa boleh."

Karenanya saya ajak ke restoran cina. Saya pesankan makanan-makanan enak. Saya pesan sirip ikan hiu, abalon, dan udang windu yang besar. Ketika makanan keluar, dia berkata dia tidak dapat makan sirip ikan hiu, abalon ataupun udang windu. Karena dia alergi terhadap ikan dan makanan laut. "Lho tadi kok tidak bilang ?" tanya saya. Akhirnya kita bertiga makan makanan tersebut, dia hanya makan sayur dan nasi goreng.

Kita tidak boleh menjawab 'sembarang'. Karena kata 'sembarang' itu tidak baik. Tidak punya arti dan tidak punya tujuan yang jelas. Jangan menggunakan kata 'sembarang'. Karena itu berarti kita tidak punya kemauan apa pun dalam persoalan hidup.

Dalam kehidupan, kita harus sedikit mungkin menggunakan kata 'sembarang'. Karena apapun itu sebenarnya adalah sebuah pilihan yang tidak ada pilihannya. Dalam kehidupan pun kita harus menentukan sikap kita. Kita mau apa, kita mau jadi apa. Kita mau sekolah apa. Kita mau makan apa, dan lain-lain.

Maka sebaiknya kita harus mengarahkan diri kita untuk suatu tujuan. Kita harus tetapkan tujuan, dan kita berusaha untuk mewujudkannya. Jadi kalau pun nanti ada halangan, kita tetap tahu bagaimana mengatasi halangan itu. Karena kita sudah tahu tujuan kita. Bukan beralih ke tujuan lain. Sehingga kita puas dan bahagia karena dapat mencapainya.(by: Tanadi Santoso)

Minggu, 03 April 2011

Jadikan Diri Sebagai Cermin

Kali ini saya ingin anda mengamati cermin (mirror). Bayangkan saat anda berkaca di depan cermin dan ternyata cerminnya tidak berfungsi dengan benar. Maksudnya, kalau di wajah anda ada kotoron, tapi di cermin tidak memantulkan kotoran itu. Sehingga anda merasa wajah anda bersih, tidak ada kotoran.

Apa yang anda rasakan bila menemukan cermin seperti ini ? Cermin yang tidak memantulkan gambar yang sebenarnya ? Pasti anda kurang nyaman karena anda tidak mengetahui apa yang sebenarnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kadang kita punya anggota tim, teman, saudara, kerabat yang mungkin bertanya seperti ini, ”Bagaimana sih menurutmu cara berpakaianku ?” Meski seharinya dia berpakaian tidak senonoh, tidak rapi, jorok dan lainnya, tapi karena sungkan kita akan menjawab, ”Oh sudah bagus kok cara berpakaianmu.”

Nah, ketika anda menjawab seperti itu, berarti anda sudah tidak menjadi cermin yang benar. Karena anda tidak mengatakan keadaan yang sebenarnya. Keadaan yang sejujurnya tentang cara berpakaiannya.

Hal ini juga pernah mencuat ketika suatu hari saya bertemu dengan teman-teman pesulap. Kebetulan saya menjadi anggota dari organisasi IBM International Brotherhood of Magic, Ring 321. Lalu ada teman yang main sulap. Seusai melakukan sulap dia bertanya tentang permainannya. Yang ditanyai menjawab, ”Wow permainanmu sudah bagus sekali” Padahal permainannya masih kurang baik. Tapi karena sungkan pada orang itu, kita mengatakan bukan hal yang sebenarnya.

Lalu apa yang terjadi dengan orang itu ? Nantinya orang itu merasa dirinya sudah bagus sekali permaianannya. Padahal masih banyak kelemahan dalam permainannya. Sehingga permainannya tidak berkembang dan semakin baik, karena dia tidak memperbaiki dan mengembangkan kemampuannya.

Dalam kehidupan bisnis sehari-hari, sebagai seorang atasan, sebagai seorang pemimpin dalam memimpin bisnis, kita sebaiknya mengatakan hal yang sebenarnya kepada anak buah kita. Kita tidak perlu memperburuk, kalau dia memang sudah bagus. Tapi kalau dia kita punya kekurangan, kita harus katakan kekurangan tersebut.

Terhadap kakak, adik, teman, kerabat, anggota tim yang mungkin melakukan kesalahan, kata-katanya kasar, suka semaunya sendiri, harusnya kita katakan hal yang sejujurnya. Kita haruslah menjadi cermin yang baik baginya. Kita harus memberi feedback yang benar.

Karena kalau kita menjadi cermin yang baik, dia akan tahu hal yang sebenarnya. Dengan begitu dia bisa memperbaiki dirinya. Mengembangkan dirinya menjadi lebih baik. Sehingga dia bisa maju dalam kehidupannya, dalam bisnisnya, dalam cara bergaulnya dan dalam segala hal.(by :Tanadi Santoso)

Cara kerja memori otak kita

Seorang pakar dari Duke University, David Rubin mencoba mempelajari cara kerja memori otak manusia. Bagaimana cara kerjanya? Untuk menngetahui jawaban ini, cobalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:

1. Apa nama ibukota negara Filipina ?2. Apa kalimat pertama dari lagu Padamu Negeri ?
3. Bagaimana gambar dari lukisan 'monalisa' yang terkenal itu ?
4. Apa anda ingat bagaimana bentuk rumah anda ketika anda masih kecil sekali ?
5. Wajah cantik siapa yang pernah anda kenal dalam kehidupan anda ?
6. Apa sih pengertian dari kata "kebenaran" itu ?
7. Bagaimana bentuk jeruk nipis itu ?

Nah, 7 hal pertanyaan ini memberikan sensasi yang berbeda pada otak kita. Ketika anda ditanyai pengertian dari kebenaran, pikiran anda akan melebar kemana-mana. Kebenaran rasanya abstrak. Lalu ketika anda menjawab pertanyaan jeruk nipis, anda ingat rasanya yang kecut. Tiba-tiba di mulut anda keluar air liur. Ketika anda ditanyai wajah siapa yang tercantik yang kita kenal, maka anda mencari-cari di waktu kecil siapa yang tercantik. Bila anda ditanya lagu Padamu Negri, tiba-tiba ada musik berputar di otak anda. Dan saat ditanya ibukota Filipina anda teringat saat pelajaran IPS di waktu sekolah dasar.

Ternyata ingatan kita tentang sesuatu itu bukanlah seperti laci-laci di lemari buku kita. Tapi seperti 'velcro', karena itu teori ini dinamakan sebagai 'Theory Velcro Theory of Memory'. Velcro itu ada 2 barang, barang yang satu seperti plastik dan yang lainnya seperti kumpulan benang. Kalau ditempelkan keduanya menjadi lengket, kalau ditarik kret.. kret.. lepas. Seperti tutupnya sepatu atau jaket dan barang-barang lain. Ini penemuan menarik di abad ini. Jadi velcro ini kalau ditempelkan lekat, kalau ditarik lepas.

Ingatan kita seperti itu. Banyak kaitan antara ingatan satu dengan lainnya. Saling berkaitan, saling menyambung. Sehingga bila kita lupa menjadi ingat kembali kalau kita diingatkan dengan mengaitkan sesuatu yang sudah diingat.

Kita mampu membuat lebih banyak sensasi dengan rasa, ingatan akan lebih mudah diingat dengan sesuatu yang relevan. Orang lebih mudah mengingat jeruk nipis daripada mengingat penegertian kebenaran itu seperti apa. Dan dengan mengetahui ini maka bila kita membuat iklan, membuat suasana hotel, membuat suasana restoran, buatlah sesuatu yang mengesankan sebagai rasa, misal suasana ruang, pelayanan dan lainnya. Jadi kalau kita bisa memberikan sensasi lebih banyak, maka ingatan pelanggan akan lebih mudah menangkap dan mengingatnya. Ilmu neuroscience dalam membedah teknologi otak manusia masih dalam fase dini. Kita mulai belajar mengerti tentang bagaimana kita mengingat sesuatu. Manfaatkan apa yang mulai kita ketahui dan pelajari untuk kepentingan bisnis dan kehidupan kita.( by: Tanadi Santoso)

Sabtu, 02 April 2011

Kunci Dari Sukses adalah Bicara

Dalam abad 21 yang telah berjalan selama hampir 8 tahun ini kita sering mendengar bahwa Emotional Quotient atau lebih dikenal dengan EQ atau Emotional Intelligence (EI) atau Kecerdasan Emosi sangat marak diperbincangkan bahkan dibuat seminar dengan biaya mahal,

Sedangkan pada abad 20 (th 90-an) orang sangat konsen dengan Intelligence Quotient (IQ) atau Kecerdasan Otak.
Mengapa ? Kata para ahli psikologi dunia yang telah melakukan survey, ternyata keberhasilan seseorang dalam kehidupannya 90% ditentukan oleh Kecerdasan Emosi nya (EQ), sedangkan IQ hanya berperan sebesar 10% saja.

Wow, begitu besarkan peran EQ dalam keberhasilan hidup seseorang? Ya, salah satu bentuk kecerdasan emosi (EQ) itu adalah Kemampuan Berbicara, sebagai contoh : Seorang karyawan yang memiliki IQ tinggi (pintar/pandai atau clever) akan tetapi tidak berani berbicara atau mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya kepada orang lain, maka dijamin tidak akan ada
satu orang pun yang tahu bahwa ia pandai/pintar/ clever atau memiliki IQ yang tinggi.

Kalau kita perhatikan hampir tidak ada pemimpin (tokoh) dunia, pebisnis, politikus ulung, yang tidak memiliki kemampuan berbicara (terutama public speaking). Tidak diragukan lagi bahwa salah satu kecerdasan emosi (EQ) yang paling utama yang harus dimiliki untuk sukses adalah Kemampuan Berbicara.

Kita mungkin masih ingat dengan Ibu Megawati yang pernah menjabat sebagai presiden Indonesia yang ternyata tidak terpilih kembali pada pemilu tahun 2004 dikarenakan salah satu faktor yaitu Kemampuan Berbicara, masyarakat memberikan julukan 'Presiden BISU' alias tidak
bisa berbicara dengan baik.

Dalam panggung Internasional siapa yang tak kenal dengan Barack Obama? Saya yakin hampir semua dari Anda mengenal tokoh yang satu ini. Dalam 2 tahun terakhir media cetak dan elektronik baik lokal maupun internasional hampir setiap hari memuat berita tentang Barack Obama. Bagaimana seorang Barack Obama yang membawa harapan baru buat masyarakat
AS dengan kemampuan berbicara yang memukau (public speaking) dan kualitas-kualitas utama lainnya sehingga ia terpilih sebagai kandidat presiden dari partai demokrat.

Bukan Barack Obama yang akan kita bahas dan kupas akan tetapi calon wakil presiden yang telah ditunjuk oleh Barack Obama beberapa waktu yang lalu yaitu Senator Joseph (Joe) Biden yang saat ini menjabat sebagai Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat Amerika Serikat.

Mengapa, ada apa dan apa yang menarik dengan sosok Joe Biden? Mungkin pertanyaan itu yang muncul di benak Anda. Saya pribadi senang mengikuti perjalanan Barack Obama menuju Gedung Putih dan pada saat ia mengumumkan bahwa Joe Biden akan menjadi calon wakil presiden, saya pun langsung penasaran. Jujur saja buat saya dan mungkin Anda semua belum familiar dan mungkin saja tidak pernah mendengar nama Joe Biden walaupun ia adalah tokoh politik yang sangat terkenal dan dikagumi oleh banyak pihak di Amerika Serikat.

Pria berusia 65 tahun ini dikenal sebagai negosiator ulung yang telah membantu membentuk kebijakan keamanan dan hubungan luar negeri AS selama beberapa dekade. Biden dianggap sebagai salah satu anggota senat paling karismatik. Namun bukan itu yang menggelitik saya untuk menulis artikel tentang Joe Biden. Yang sangat menarik dari seorang Joe Biden buat saya
adalah kehidupan masa kecilnya.

sumber: berbagai sumber

The Power of Kepepet

Kita sebagai manusia selalu menginginkan banyak pilihan terhadap sesuatu. Misalkan anak anda lulus SMA, lalu melamar di 3 universitas. Universitas pertama menerima dan meminta membayar uang pangkal. "Kita bayar dulu sedikit. Tidak apa-apa, nanti kalau diterima yang lain, kita tidak usah melunasinya. Tidak apa rugi 2 juta," begitu kata anda.

Ternyata di universitas kedua, anak anda diterima. Anda melakukan hal yang sama seperti waktu diterima oleh universitas pertama. Sedangkan di universitas ketiga yang kita dambakan malah belum keluar pengumumannya.

Ya, kita selalu bimbang. Karenanya kita selalu mencoba untuk memiliki banyak pilihan. Sudah diterima kerja di tempat A, kita masih melamar pekerjaan di tempat B dan C. "Siapa tahu nanti tidak cocok, kita bisa pindah ke B atau ke C," begitu pikir kita.

Hal inilah menjadikan kita tidak fokus dalam mengerjakan sesuatu karena banyaknya pilihan, banyaknya pintu yang terbuka dalam kehidupan kita. Kita lalu mempertahankan pintu-pintu itu supaya pilihan tersebut tetap terbuka. Sehingga kita siap untuk melompat ke pintu yang lain kalau 'kepepet' atau terjepit.

The power of kepepet, terjepit dalam suatu sudut yang kita tidak bisa kemana-mana, memaksa kita untuk melakukan satu pilihan. Karena memang tidak ada pilihan lain. Hal ini malah menurut psikolog mempunyai kekuatan yang besar untuk membuat kita melakukan hal-hal yang luar biasa dan mau berjuang habis-habisan. Kalau tidak, kita akan 'habis' karena memang tidak ada pilihan lain.

Tetapi selama anda memiliki pilihan lain, maka kita tidak akan fokus 100%. Kita selalu memikirkan, "Toh kalau tidak ada si A, kita bisa minta tolong kepada si B atau si C." Tapi kalau tidak ada yang menolong, mau tidak mau, kita harus bekerja keras mati-matian untuk itu.

Kadang kita dapat secara sengaja perlu menutup pintu-pintu lain. Kita bisa berkata, "Tidak ada yang lain kecuali ini. Mau tidak mau saya harus masuk ini. Pilihannya cuma 1." Maka itu akan membuat kita fokus dan berpikir lebih jernih. Kita akan mati-matian untuk berusaha secara maksimal. Pada akhirnya kalau kita melakukan hal ini akan membawa kesuksesan kepada anda daripada ada banyak pilihan yang bisa anda pilih.

Banyak sejarah dan bisnis menunjukkan orang yang terjepit, tidak dapat mundur lagi dan hanya punya satu pilihan, akan mempunyai semangat, energi dan kekuatan untuk maju dan mengalahkan semua rintangan. Dalam dunia perang, dimana pemimpin membakar kapalnya supaya semua serdadu tidak ada jalan kembali kecuali pergi perang dan menang, menang atau mati, maka semangatnya mengalahkan semua rintangan. Dalam bisnispun ketika kita terjepit dan tidak punya alternatif lain, menang atau mati, maka energi dan semangat kita akan begitu kuat mengalahkan segala rintangan yang ada.( by : Tanadi santoso)

Jumat, 01 April 2011

BRAND Language

Kata sering melekat dengan kuat pada suatu “Brand”, ketika mendengar “I love you full” maka langsung kita ingat “tak gendong” dan Mbah Surip.

Brand language adalah alat untuk memperkuat lekatan “Brand” kita didalam benak pelanggan. “Brand Mantra” sering dipakai sebagai alat komunikasi yang kuat. Dari “Just do it” (Nike), sampai “Kwalitas bintang lima, harga kaki lima” (d’Cost restoran). Sementara “Kembali ke Laptop”, kembali mengingatkan kita ke Tukul.
“Luar Biasa”; “Dahsyat”; “Tanya Kenapa”, serta berpuluh kata atau kalimat pendek telah membuat ingatan kita lebih cepat terbang pada sebuah “Brand.”

Brand Mantra haruslah “catchy”, mudah ditangkap dan mudah diingat, punya keunikan yang khusus, dan terasa “authentic”. Kalimat panjangpun kalau sangat bagus, mudah diingat orang. “Muda foya foya, tua kaya raya, mati masuk surga” akan selalu mengingatkan kita akan “Joger”, yang nyentrik, nyeleneh dan asik.

Dalam kurun pemikiran yang sama, demikian pulan Brand Name, “Nama” pun jadi kunci dalam banyak hal di dunia bisnis, dari pemilihan merek “Sony” (dibaca sama diseluruh dunia, dan punya tendensi arti mirip dengan “anakku”); sampai nama2 bintang. Tukul Arwana (Ryanto), Dorce (Ahmad Ashadi), sampai Freddy Mercuri (Farrokh Bulsara), semuanya memahami kekuatan sebuah nama yang mudah diingat orang dan memberi kesan yang kuat.

Perusahaan besar membayar mahal untuk terciptanya sebuah “nama” ataupun “logo” ataupun “mantra” yang bisa mendongkrak Brand mereka, karena mereka tahu bahwa hal itu akan mempermudah komunikasi promosi mereka.

Dalam perjalanan kita, sam-design memakai “Creating Wow and Aha” (wow=hebat, aha=tepat guna), dan saya menutup business wisdom dengan “Sukses untuk anda.”
(by :Tanadi santoso)

Kamis, 24 Maret 2011

3V Talking

Sebuah riset di Amerika menunjukkan bahwa saat berkomunikasi, orang menangkap apa yang kita maksudkan 55% adalah dari gerak - gerik kita saat bicara, 37% adalah dari intonasi suara kita, dan hanya 8% orang memperhatikan kata - kata yang kita ucapkan.

Seringkali kita berpikir sebaliknya, bahwa kata - kata yang kita ucapkan akan mempengaruhi maksud yang ditangkap oleh lawan bicara kita. Kita jadi sering membuang waktu untuk berhati - hati menyusun kata - kata yang akan kita sampaikan pada saat berbicara. Hal ini memang ada benarnya. Tapi yang lebih menentukan sampai tidaknya maksud yang kita sampaikan adalah dari gerak - gerik visual tubuh kita saat bicara.

Ada 3 V yang harus anda perhatikan dari proses komunikasi ini yaitu Visual : bagaimana orang memperhatkan gerak - gerik kita pada saat ber bicara, yang akan mempengaruhi 55% penyampaian maksud dalam komunikasi. Kemudian ada pula Voice : bagaimana kita memberikan intonasi dan nada dalam pengucapan kata - kata tersebut, yang mempengaruhi hingga 37% penyampaian maksud dalam komunikasi. Yang terakhir adalah Vocal : yaitu kata - kata yang kita pilih, yang hanya mempengaruhi 8% dari penyampaian maksud dalam komunikasi.

Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa yang mempengaruhi orang pada saat berkomunikasi adalah gerak - gerik visual yang memberikan ekspresi dan intonasi suara yang menentukan ada tidaknya antusiasme dan emosi dalam cara kita berbicara. Misalnya saja, anda mengucapkan kata - kata "Bagus ya!", yang pertama anda mengucapkannya dengan tersenyum dan intonasi yang bersemangat, orang akan mengerti bahwa anda sedang memujinya. Tapi bila kata - kata yang sama anda ucapkan dengan ekspresi wajah datar dan dengan nada sinisme, dia akan mengerti bahwa anda sedang menyindirnya. Demikian pula bila anda mengucapkan sesuatu dengan tidak tulus. Secara tidak sadar tubuh dan ekspresi wajah anda akan menyampaikan ketidaktulusan tersebut pada lawan bicara anda.

Perlu anda sadari bahwa dalam komunikasi, selalu terjadi sinkronisasi antara apa yang anda ucakpan dan apa yang anda rasakan pada lawan bicara anda saat anda mengucapkan kata - kata tersebut. Hal ini secara halus tercermin dan akan dengan cepat ditangkap oleh lawa bicara anda sehingga ia akan dapat memutuskan apa maksud anda sebenarnya.

Perhatikan kembali 3 V yang tadi telah disebutkan harus ada kesinkronan bila anda dalam 3 elemen ini bila anda menginginkan maksud anda ditangkap dengan baik oleh lawan bicara anda. Maka, anda betul - betul harus memperhatikan ekspresi gerak tubuh, wajah, maupun intonasi anda saat berbicara untuk meyakinkan lawan bicara akan maksud anda yang sebenarnya.

Mitra Bisnis, dalam kehidupan bisnis pasti anda akan sering menghadapi saat dimana anda harus bicara pada orang lain. Pada saat - saat seperti itu, perhatikan dengan cermat 3 V anda agar kiranya lawan bicara anda mengerti dengan baik apa yang anda maksudkan.

Demikianlah Bisnis Wisdom kesempatan ini, kiranya dapat berguna dalam meningkatkan bisnis anda!(by:Tanadi Santoso)

Rabu, 23 Maret 2011

4P Syarat Sukses

Beberapa waktu lalu saya terserang flu yang cukup berat dan panjang. Pada masa itu saya harus ke Jakarta terus ke Bogor memberikan seminar ke Aneka Tambang. Perjalanannya cukup jauh dan melelahkan. Setelah sampai sana, saya harus dengan penuh semangat berbicara selama 4 jam. Setelah itu kembali ke Jakarta, terus terbang ke Semarang berseminar untuk Holcim. 

Besok paginya saya harus berbicara lagi di Surabaya. Padahal waktu itu flu saya cukup berat. Setelah selesai, saya kembali ke hotel, tidur. Memberikan istirahat yang cukup.

Nah, ini adalah salah satu dari 4 syarat sukses, kalau anda ingin meraih sukses dalam pekerjaan. Saya sebut ini sebagai 4P Syarat Sukses.

P yang pertama, sudah saya ceritakan sebagai illustrasi di atas, adalah profesionalism (profesionalisme). Yakni tepat waktu, melakukan persiapan walapun sakit. Asal masih bisa ditahan, 'the show must go on', karena sudah janji dengan pelanggan untuk memberikan pelayanan yang terbaik. Profesionalisme kita dituntut untuk sebisanya memenuhi harapan pelanggan kita.

P yang berikutnya adalah Passion, kecintaan kita akan pekerjaan. Kalau kita punya passion, maka pekerjaan kita akan jauh terasa lebih ringan dan menyenangkan. Dan kita lebih menikmati waktu mempersiapkan dan melakukannya, bukan lagi sebagai beban.

Dan P yang ketiga adalah Personality (kepribadian). Kita harus cocok dengan pekerjaan kita. Meski begitu, kita harus berbeda dengan orang lain. Kita harus punya otentik sendiri yang berbeda dengan orang lain. Mungkin itu adalah kerendahan hati, mungkin sikap optimisme, mungkin sebuah keyakinan, mungkin sebuah keinginan menolong orang, mungkin rasa kerelaan berbagi ilmu sebanyak mungkin ke orang lain. Ini semua adalah contoh dari sebuah personality.

Dan P yang terakhir adalah Purpose atau tujuan. Tentu saja ini berbeda-beda tergantung pekerjaannya. Misalkan saya dalam memberikan seminar. Saya dalam memberikan seminar selalu memberikan 3 hal. Pertama, motivasi. Kedua, perubahan sudut pandang supaya anda bisa melihat dengan kacamata yang lebih benar. Yang ketiga adalah memberikan skillset atau ilmu yang dapat anda pakai untuk mencapai kesuksesan.

Maka 4P ini penting buat kita, supaya kita mau melakukan pekerjaan kita dengan lebih baik; profesionalism, passion, personality dan purpose.(by : Tanadi santoso)

Kamis, 28 Oktober 2010

Percaya

Dari cerita klasik China tentang seorang ibu yang dikabari bahwa anaknya adalah pembunuh. Disebuah dusun dijaman lalu, sebelum ada mobil, telpon, ataupun facebook. Seorang anak lelaki berangkat ke luar kota bekerja, meninggalkan ibunya sendiri dirumah.

Besoknya ada sorang tetangga bilang kepada si ibu bahwa anaknya membunuh orang dikota lain. Tentu saja sang ibu tidak percaya sama sekali. Sorenya lagi ada seorang lain memberitahun anaknya membunuh orang karena pekerjaan dikota lain itu. Sang ibu terdiam dan masih tidah percaya. Malam itu tidurnya menjadi tidak enak.

Esoknya lagi, pagi2 sudah ada seorang tetangga bilang anaknya membunuh orang. Dan sang ibupun mulai ragu2 akan hal ini. Ketika orang keempat mengatakan hal yang sama, sang ibu yakin benar anaknya telah membunuh orang, dan dia sedih sekali.

Besoknya lagi, anaknya pulang kerumah, dan sang ibu dengan bingung menanyakan hal itu. Anaknya tertawa dan menjawab bahwa mana mungkin dia mau membuhuh orang, kenapa ibunya tidak percaya padanya. Memang ada pembuhuhan, tapi dia tidak terlibat, pembunuh itu kebetulan punya nama yang mirip dengan dia.

Seorang yang sangat yakinpun, pelahan lahan akan mulai meragukan keyakinannya bilamana semua orang meyakini hal lain. Kekuatan pengulangan dalam marketing juga menjadi senjata merubah orang yang ragu menjadi percaya. Butuh waktu dan pengulangan untuk merubah kepercayaan seseorang akan sebuah hal. Kita dapat memanfaatkan ini untuk bisnis, dan harus pula berhati2 ketika mau percaya akan sesuatu, karena pengulangan berita.(by: Tanadi santoso)

Kamis, 20 Mei 2010

Solusi 10 menit

Ada sebuah riset yang dilakukan pada para dokter, yang dibuat sebagai sebuah studi kasus tentang psikologi keputusan dan reaksi. Kasusnya adalah pasien yang telah lama tidak sembuh dan butuh operasi, dokter diberitahu bahwa sang pasien harus dioperasi sore ini, dan semua persiapan telah siap. 

Siang itu tiba2 sang dokter tahu bahwa ada satu obat yang belum pernah di cobakan dan sangat mungkin akan mampu menyembuhkan tanpa operasi. Pertanyaannya, apakah dokter mau mencoba obat itu dulu dan membatalkan operasi? Ternyata hasinya adalah 47% bilang akan menunda operasi dan mencoba obat tersebut.

Nah, pada doker2 lain diberi kasus mirip, tetapi diberitahu bahwa siangnya tiba2 sang dokter tahu bahwa ada dua obat yang mungkin bisa menyembuhkan. (Ada dua macam obat, tapi tidak boleh dimakan bersamaan, jadi harus dicoba salah satu dulu. Dianggap tidak ada keterpaksaan untuk segera melakukan operasi.) Apakah sang dokter akan membatalkan operasi dan mencoba salah satu dari obat itu dulu? Ternyata hanya 28% dokter saja yang mau membatalkan operasi, dan mencoba memakai obat dulu.

Ini sebuah paradox, ketika lebih banyak pilihan, malah bingung, dan tendensikan menjadi tidak mau memilih. Riset membuktikan ketika kita memiliki lebih banyak pilihan, kita bingung untuk memilih, dan kalau kita tidak mau “pusing” memikirkan, maka kita biarkan saja semua berjalan seperti rencana semula.

Dalam riset lain, dibuat sebuah stand penjual selai di supermarket. Diadakan demo dengan 26 macam rasa selai, pengunjung dapat mencoba dan membeli. Ini dibandingkan dengan demo pada tempat yang sama dan hanya dengan 6 macam selai. Ternyata penjualan pada yang 6 macam selai malah 3 kali lipat lebih banyak daripada yang 26 macam (dengan waktu dan keadaan yang mirip, dan produk yang sama). Ketika terlalu banyak pilihan kita malas memilih, kita bingung mau yang mana, dan jadinya malah tidak jadi membeli.

Ketika kita berkeinginan membersihkan dapur atau rumah kita yang sudah lama tidak rapi, kita bingung memulai dari mana, karena begitu banyak yang bisa kita kerjakan. Begitu juga ketika kita mau membenahi taman rumah kita yang terbengkelai. Atau ketika kita mau memulai lagi mengawali bisnis baru. Juga ketika kita mau memulai lagi upaya ber-network dengan danyak teman2 lama yang terputus. Juga pada saat kita mau start membaca buku2 bisnis. Semua ini memberikan “kesulitan mengawali” yang membingungkan untuk mulai dari yang mana. Akibatnya kita memilih menunda saja. Sehingga menjadi kebiasaan menunda yang merugikan.

Semua pekerjaan besar lebih mudah diselesaikan dalam pilahan pilahan kecil. Tujuan kita lebih terasa mudah kala target kita jelas dan singkat. Jadi solusinya adalah mengurangi pilihan, memulai dengan hal kecil, atau memberi batas waktu. Sesuatu yang “kecil” akan lebih mudah dilakukan, yang langsung berupa langkah nyata dan tidak membutuhkan investasi waktu atau uang atau sumber daya lain yang besar.

Nah, inilah “Solusi 10 menit” untuk penyakit lama yang ada di kita, termasuk saya, penyakit selalu menunda nunda melakukan sesuatu. Procrastination.

Nyalakan alarm timer anda, set 10 menit. Janjilah pada diri anda, saya hanya perlu mengerjakan 10 menit saja. Kalau sudah 10 menit saya bisa berhenti, dan boleh meneruskan kalau mau, tanpa pemaksaan.

Lalu kerjakan apa yang sudah anda tunda lama tersebut. Misalkan membersihkan dapur. Mengatur kembali kamar tidur. Menulis puisi yang sudah lama tidak kita lakukan. Atau, membersihkan kantor anda yang sudah lama amat sangat tidak teratur.

Membatasi 10 menit membuat kita punya instruksi tegas dan jelas yang mudah dilakukan. Begitu juga dengan bernetwork, tentukan senin ini, 2 minggu sekali, menemui 1 teman lama, siapapun, untuk makan siang. Sebuah instruksi mudah yang ringkas, akan membuat kita lebih mau untuk melaksanakannya dari pada banyak alternatip yang tidak jelas.

Nah, riset menunjukkan 10 menit ini, atau 5 menit, atau 15 menit, akan lebih mudah memacu kita mematahkan penundaan penundaan kita pada pekerjaan yang sudah lama ingin kita lakukan. Selamat mencoba, dan salam sukses untuk anda.(by: Tanadi santoso)

Rabu, 07 April 2010

Optimisme

Martin Seligman dalam bukunya Learned Optimism membeberkan bahwa Optimisme tidak sama dengan Positive thinking. Optimisme adalah response internal kita terhadap sesuatu keadaan. Optimisme membuat kita menjadi persisten, sanggup menerima kegagalan dan bangkit berjuang lagi, karena kita yakin akan bisa mengatasi kesulitan dan menjadi sukses. Optimisme lebih penting daripada Positive Thinking, karena Optimisme memberikan dorongan bergerak dan mamacu kita bertindak.

Optimisme membuat kita hidup lebih berarti, mau bekerja lebih keras, pantang menyerah, dan berbahagia. Optimisme adalah kemampuan melihat gelas itu setengah penuh dan bukan setengah kosong. Salesman yang optimis akan lebih mampu menjual, olahragawan yang optimis akan lebih sering menang, dan pebisnis yang optimis akan lebih mungkin sukses.

Dalam sebuah keadaan, misalkan anda dipecat oleh perusahaan anda, apa yang anda pikirkan? Menangis meratapi dan menyerah, atau mempelajari situasi sekarang, menerima keadaan, dan bankit dengan optimis untuk mencoba sesuatu yang baru? Didalam setiap orang selalu ada diskusi internal, antara saya dan saya, baik secara sadar ataupun bawah sadar.

Ada 3 hal yang menjadi pertimbangan diskusi internal kita dalam kaitannya dengan Optimisme: 3 P (Permanence, Pervasiveness, Personalization).

Kita coba misalkan ada kejadian negatip, mobil yang baru kita beli, ketika kita keluarkan dari garasi, ditabrak sepeda motor. Nah apa pemikiran kita?

Permanence: Apakah “selalu”(permanen) begini atau ini hanya “kebetulan”. Optimis akan berpikir ini hanya kebetulan terjadi pada kehidupan kita karena kita sebenarnya adalah orang yang mujur. Pesimis menganggap dirinya memang selalu sial dalam hidup ini.

Pervasiveness: Apakah ini “universal”(umum) atau “specific” Optimis bilang dirinya sebenarnya secara umum hokki dan ini kasus khusus yang terjadi, sebaliknya pesimis menganggap ya beginilah hidupnya yang selalu penuh kemalangan.

Personalization: Apakah yang menyebabkan ini “external factor” atau “internal factor”, disebut juga “locus of control” (penyebab kejadian). Optimis menganggap ini karena pengendara sepeda motor tidak hati2, pesimis menganggap kesialan ini karena dirinya yang lagi sial.

Nah, dalam kejadian yang sebaliknya, misalkan penjualan toko anda hari ini ternyata 3 kali lipat lebih banyak dari biasanya, pemikiran optimis dan pesimis akan terbalik. Optimis menganggap dia selalu sukses dan ini buktinya, secara universal inilah yang melambangkan kehidupan bisnisnya dan ini terjadi karena dia adalah pekerja keras yang seharusnya sukses. Pesimis akan menganggap ini hal kebetulan saja, dan hanya terjadi sekali sekali saja, dan ini terjadi karena toko2 sebelah kebetulan tutup sehingga orang beli ditokonya.

Setiap orang dilahirkan dengan optimisme tertentu, lingkungan dan latihan yang diterimanya juga membentuk optimismenya dalam menjalani kehidupan.

Bagaimana kita memperbaiki optimisme kita? Mengawasi dan memperbaiki “internal talk” yang terjadi didalam kita dan mengarahkan pada 3P yang lebih optimistik. Ini kunci rahasia Optimisme dan ini dapat kita latih.

Lain kali, ketika anda mendadak terkena masalah, awasi apa yang dipikirkan dan didiskusikan dalam benak anda, belajar untuk membiasakan berpikir bahwa itu adalah perkecualian dan khusus hanya kejadian itu saja yang sial, karena anda seharusnya adalah orang sukses yang mujur, dan kesialan itu adalah karena faktor luar.

Sebaliknya kalau mendapat pujian atasan dan bonus khusus yang besar, pikirkan itu memang seharusnya selalu terjadi secara berterusan dan merupakan hak anda, sukses anda memang universal, dan hal itu terjadi karena anda yang memang luar biasa.

Kita belajar dan berlatih matematika, bahasa Inggris, badminton dan golf untuk memperbaiki kemampuan kita dalam hal itu. Mengapa kita tidak belajar dan berlatih menjadi lebih Optimis dalam hidup ini, sehingga bisa lebih sukses dan bahagia?(by:Tanandi santoso)

Kamis, 04 Maret 2010

Mencintai Seperti Apa Adanya

Ada sebuah cerita yang ringan, menarik sekaligus indah. Konon ada seorang cowok yang jatuh cinta pada seorang cewek. Ini biasa. Cowok ganteng jatuh cinta pada cewek cantik.

Cowok ini adalah seorang pendiam. Tidak banyak cakap. Dan dia takut untuk mengungkapkannya. Akhirnya dia memberanikan diri, "Saya cinta kamu. Maukah kamu menjadi kekasihku?" Untunglah cinta si cowok ini tidak bertepuk sebelah tangan. "Saya juga cinta kamu," jawabnya. Maka keduanya mulai menjadi kekasih.

Suatu waktu si cewek berpikir, "Kenapa ya cowokku mencintai saya ?" Dan dia mulai menanyakannya.

"Saya kenal seorang teman cowok. Dia mencintai ceweknya karena dia bisa menyanyi dengan indah. Suaranya merdu dan enak didengar." Dan dia menambahkan contoh teman lainnya yang jatuh cinta pada ceweknya, karena dia pandai menari. Tangan dan kakinya begitu gemulai ketika dia mulai menari.

"Lalu kenapa kamu mencintaiku ?", tanya si cewek. Si cowok hanya diam saja. Memang dia tidak pandai bicara. Dia hanya bisa mematung sambil memandang mata si cewek. Ditanya berulang-ulang, si cowok tetap membisu.

Si cewek mulai naik pitam. Dia mulai berpikir yang negatif. Jangan-jangan si cowok cuma bohong. Mungkin saja dia tidak jatuh cinta padaku, tebaknya. Maka dia ingin memutuskan hubungan dengan si cowok ini. Tentu saja si cowok keberatan.

Di tengah persoalan ini, dalam perjalanan ke luar kota, tiba-tiba si cewek kehilangan kendali pada mobilnya. Mobilnya selip, dan terjun ke jurang. Sialnya dia tidak pakai seat belt.

Suatu keajaiban meski lukanya cukup parah, dia akhirnya sembuh. Meski harus meninggalkan 2 cacat. Yang satu kakinya pincang. Jalannya jadi tertaih-tatih. Dan yang kedua, dia menjadi bisu. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Yang menarik, si cowok tetap sabar dan baik hati menunggui ceweknya.

Dan dia akhirnya berbicara, "Kekasihku, untung aku tidak bilang ke kamu, kalau aku mencintaimu karena suaramu yang indah itu. Dan untung aku juga tidak bilang ke kamu, bahwa aku mencintaimu karena tarianmu yang indah."

"Coba kalau aku menjawab aku mencintaimu karena suara dan tarianmu, padahal sekarang kakimu sudah luka, dan kamu tidak bisa bersuara lagi. Maka aku tidak punya alasan untuk mencintaimu. Alasan apa lagi yang harus aku utarakan, nanti kamu menyangka aku bohong."

"Sebenarnya aku mencintaimu tanpa alasan apapun. Karena aku memang sadar dan benar-benar mencintaimu seperti apa adanya. Walaupun sekarang kakimu menjadi pincang dan kamu menjadi bisu."

Air mata mengalir membasahi pipi si cewek. Dia sungguh tersentuh. Dan mereka kembali menjadi sepasang kekasih.

Kadang kita tidak dapat lagi mencintai seseorang, atau mencintai sesuatu karena alasan a atau b. Bukan berarti kita tidak punya alasan. Tetapi kita memang mencintai pekerjaan kita, mencintai seseorang secara apa adanya.(by: Tanadi santoso)

Rabu, 17 Februari 2010

SMS kepada teman

Kita sering melupakan jaringan teman2 kita, terutama teman2 lama yang jarang lagi kita tegur sapa. Kesibukan terlah melarutkan kita pada perjalanan hidup dengan menghadapi apa saja yang datang didepan kita. Jarang lagi kita memikirkan hal2 diluar kebiasaan kita.

Jaringan teman kita kebanyakan terdiri dari teman yang jarang kita tegur sapa lagi. Teman yang kita hanya temui sekali atau dua kali dalam tahun ini. Yang ingin kita ajak diskusi tapi tidak pernah ada waktu yang cukup untuk menjangkaunya.

Nah, sebuah strategi yang dapat kita lakukan adalah pengiriman SMS secara masal kepada semua kontak kita yang ada di handphone kita.

Coba biasakan meminta nomor handphone kepada teman baru kita dengan langsung memasukkan nomornya ke handphone kita.

Pada hari Lebaran, Natal, Tahun Baru, kirimkan SMS kepada mereka semuanya. Buatlah SMS yang menarik sebisa anda, jangan memakai tulisan umum atau mem forward dari SMS teman. Ada sebuah originalitas atas "suara" anda di SMS itu dan itu akan mengingatkan orang akan anda.

Kirimkan kesemua kontak anda, 100 sms minimal, lebih tentu lebih baik, saya mengirim 340 sms pada Lebaran ini, dan menhabiskan sehari untuk kontak kontak SMS dengan teman2 lama dan baru yang membalas SMS saya.

Bisa ada balasan dari orang yang tidak pernah anda kontak selama tiga bulan terakhir, kirimkan lagi sebuah atau dua SMS untuk menceritakan diri anda atau menanyakan keadaannya. Kita akan membutuhkan network itu dimasa yang akan datang, dan network harus anda jaga dan pelihara. SMS adalah salah satu strategi mudah yang dapat anda lakukan.

Kirimkan kepada teman sekerja, pada supplier, customers, sanak family, sahabat jauh, orang yang baru anda kenal dipesawat udara minggu lalu, ataupun kawan SMA anda dulu yang masih ada ketahui nomornya.

Kontak2 yang jarang anda lakukan ini akan menjadi sangat berguna untuk kesuksesan anda. Dan sukses adalah sebuah hasil dari sebuah kebiasaan yang baik dalam menjalankan kehidupan dan bisnis anda. Selamat berbisnis dan Sukses untuk anda.(by: tanadi santoso)

Jumat, 15 Januari 2010

Tersenyum

Senyum Monalisa ketika dimasukkan kedalam program komputer pengenal wajah yang canggih, diartikan memiliki makna 83% bahagia, 9% jijik, 6% takut, dan 2% marah. Sebenarnya apa makna sebuah senyum? Dan mengapa manusia tersenyum?

 Senyum bisa punya sejuta makna, tetapi sebenarnya apa manfaat senyum? Pada dunia hewan, menarik ujung bibir biasanya bermakna akan melakukan penyerangan, pertanda menantang, dan tanda agresi. Mengapa berbeda pada manusia?

Proffessor John J.Ohala, dari Berkeley, memberikan jawaban yang mengejutkan, ternyata manusia tersenyum pada awalnya bukanlah karena penampilan, tatapi karena suara. Ketika kita tersenyum dan berbicara maka suara kita menjadi lebih tinggi, yang ternyata menandakan keramahan, dan persahabatan.

Karena itu sangat disarankan, ketika anda menelpon klien anda, tersenyumlah, supaya terasa lebih bersahabat, kecuali kalau memang anda menelpon untuk menegur atau marah2.

Ketika kita menggoda bayi, tanpa sadar pitch suara kita akan meninggi, yang menandakan hubungan sosial yang akrab. Sedangkan kalau kita mau terlihat “galak” dan ‘serius” maka tanpa sadar kita akan merendahkan suara kita.

Pada hewan, seperti anjing pun, terjadi hal yang sama, kalau mengajak bermain, maka suaranya akan meninggi, sebaliknya kalau mengancam, pitch suaranya akan merendah.

Pada lelaki tejadi perubahan suara dari tinggi menjadi rendah ketika melewati masa akil balik, menjadi dewasa, yang berarti menjadi lebih serius.

Menurut berita angin, Margaret Thatcher sebelum menjadi “Iron Lady” juga memakai pelatih untuk membuat suaranya menjadi lebih rendah, supaya terasa lebih serius. Bukan saja suara dapat dilatih, bahkan sekarang sudah ada operasi plastik untuk merubah suara menjadi lebih tinggi, supaya seseorang terdengar lebih bersahabat.

Jadi, salah satu sebab kita tersenyum adalah supaya suara kita tidak terasa mengancam dan menakutkan, supaya kita lebih mudah didekati. Secara naluri selanjutnya orang memahami senyum sebagai sebuah tanda “mudah didekati” dan “bersahabat”.

Bila anda ingin terasa lebih “serius” maka rendahkan pitch suara anda, dan kalau ingin terdengar lebih bersahabat, silahkan meninggikan pitch suara anda, atau katakan dengan muka tersenyum. Selamat mencoba. Salam tersenyum.(by: Tanadi santoso)