Dalam beberapa tahun ke depan, ponsel dan tablet PC bisa dilipat layaknya kertas dan bisa disimpan dalam saku. Saat ini, prototipe perangkat ini sudah ada. Seperti apa?
Direktur Human Media Lab Roel Vertegaal di Queen’s University akan memamerkan prototipe perangkat yang diberi nama PaperPhone itu di konferensi Association of Computing Machinery’s Computer Human Interaction di Vancouver pekan depan.
“Ini masa depan. Semuanya akan tampak dan terasa seperti ini lima tahun mendatang,” katanya. Komputer ini tampak, terasa dan beroperasi seperti kertas kecil yang interaktif, lanjutnya. “Anda bisa berinteraksi dengan cara melipatnya guna mengubahnya menjadi ponsel atau lembaran 'kertas' untuk menulis dengan pulpen”.
Tampilan PaperPhone merupakan layar tipis fleksibel berukuran 3,7 inci. Ketika dokumen bisa disimpan di layar yang lebih besar, kantor-kantor tak akan lagi membutuhkan kertas atau printer, ungkap Vertegaal.
“Kantor tanpa kertas segera terwujud. Semuanya bisa disimpan secara digital dan Anda bisa menumpuk perangkat ini layaknya kertas biasa atau meletakkannya di sekitar meja,” imbuhnya.
Studi film komputer tipis yang bisa dibengkokkan ini akan diterbitkan di konferensi itu. Selain ponsel kertas, Vertegaal juga akan memamerkan komputer gelang yang disebut Snaplet. Menarik bukan?
Tampilkan postingan dengan label technology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label technology. Tampilkan semua postingan
Jumat, 06 Mei 2011
Senin, 02 Mei 2011
Virus untuk Optimalkan Sel Surya
Peneliti asal Massachusetts Institute of Technology (MIT) berhasil menemukan cara untuk meningkatkan efisiensi proses konversi sinar matahari menjadi energi secara signifikan.
Caranya, mereka menggunakan virus untuk melakukan proses perakitan di tingkat mikroskopik. Adapun “pekerjaan” yang dilakukan virus itu antara lain adalah berinteraksi dengan karbon nanotube.
Tabung nano karbon, seperti diketahui sebalumnya, menawarkan potensi perbaikan teknologi, khususnya di bidang penyimpanan energi seperti sel bahan bakar dan thermocell.
Pada kasus panel surya, MIT menyebutkan, rongga silinder berukuran mikroskopik yang terdiri dari karbon murni ternyata apat meningkatkan efisiensi dari pengumpulan elektron dari permukaan sel surya. Namun demikian, peneliti menghadapi sejumlah tantangan saat berurusan dengan nanotube.
Masalah pertama, pembuatan nanotube karbon umumnya menghasilkan dua jenis nanotube. Sebagian bersifat seperti semikonduktor yang kadang memungkinkan listrik mengalir, dan kadang tidak. Ini merupakan tipe yang menguntungkan karena bisa meningkatkan performa sel surya.
Jenis kedua yang dihasilkan memiliki bersifat seperti logam yang berfungsi seperti kabel. Selalu memungkinkan listrik mengalir. Ini justru mengurangi performa produk panel surya yang dihasilkan.
Masalah kedua, nanotube juga cenderung mengumpul. Ini juga menurunkan tingkat efektivitasnya. Di sinilah virus berguna.
Peneliti MIT mendapati bahwa sebuah versi virus yang sudah dimodifikasi secara genetik, yang disebut M13 yang umumnya menginfeksi bakteria, bisa digunakan untuk mengontrol susunan nanotube pada permukaan, membuat tabung-tabung itu tetap terpisah sehingga tidak menimbulkan arus pendek serta menjaga tabung-tabung itu tetap berjauhan agar tidak saling menempel.
Menurut Angela Belcher, Professor of Energy dari MIT yang mengetuai penelitian, proses ini hanya menambahkan satu langkah sederhana pada proses pembuatan sel surya. “Proses ini juga tidak sulit untuk diadaptasi oleh fasilitas produksi yang ada saat ini,” ucap Belcher, seperti dikutip dari Earth Techling, 2 Mei 2011.
Belcher menyebutkan, sistem yang ditelitinya diuji dan menggunakan sel surya dari jenis yang disebut dengan sel surya peka warna (dye-sensitized). Namun, timnya yakin bahwa teknik ini juga bisa diaplikasikan pada sel surya tipe lain.
Dalam uji coba, mereka berhasil meningkatkan efisiensi konversi energi dari 8 persen menjadi 10,6 persen. Artinya, menggunakan teknik ini, peningkatan sekitar 32 persen atau nyaris satu per tiga kali lipat berhasil diraih.
sumber : vivanews.com
Caranya, mereka menggunakan virus untuk melakukan proses perakitan di tingkat mikroskopik. Adapun “pekerjaan” yang dilakukan virus itu antara lain adalah berinteraksi dengan karbon nanotube.
Tabung nano karbon, seperti diketahui sebalumnya, menawarkan potensi perbaikan teknologi, khususnya di bidang penyimpanan energi seperti sel bahan bakar dan thermocell.
Pada kasus panel surya, MIT menyebutkan, rongga silinder berukuran mikroskopik yang terdiri dari karbon murni ternyata apat meningkatkan efisiensi dari pengumpulan elektron dari permukaan sel surya. Namun demikian, peneliti menghadapi sejumlah tantangan saat berurusan dengan nanotube.
Masalah pertama, pembuatan nanotube karbon umumnya menghasilkan dua jenis nanotube. Sebagian bersifat seperti semikonduktor yang kadang memungkinkan listrik mengalir, dan kadang tidak. Ini merupakan tipe yang menguntungkan karena bisa meningkatkan performa sel surya.
Jenis kedua yang dihasilkan memiliki bersifat seperti logam yang berfungsi seperti kabel. Selalu memungkinkan listrik mengalir. Ini justru mengurangi performa produk panel surya yang dihasilkan.
Masalah kedua, nanotube juga cenderung mengumpul. Ini juga menurunkan tingkat efektivitasnya. Di sinilah virus berguna.
Peneliti MIT mendapati bahwa sebuah versi virus yang sudah dimodifikasi secara genetik, yang disebut M13 yang umumnya menginfeksi bakteria, bisa digunakan untuk mengontrol susunan nanotube pada permukaan, membuat tabung-tabung itu tetap terpisah sehingga tidak menimbulkan arus pendek serta menjaga tabung-tabung itu tetap berjauhan agar tidak saling menempel.
Menurut Angela Belcher, Professor of Energy dari MIT yang mengetuai penelitian, proses ini hanya menambahkan satu langkah sederhana pada proses pembuatan sel surya. “Proses ini juga tidak sulit untuk diadaptasi oleh fasilitas produksi yang ada saat ini,” ucap Belcher, seperti dikutip dari Earth Techling, 2 Mei 2011.
Belcher menyebutkan, sistem yang ditelitinya diuji dan menggunakan sel surya dari jenis yang disebut dengan sel surya peka warna (dye-sensitized). Namun, timnya yakin bahwa teknik ini juga bisa diaplikasikan pada sel surya tipe lain.
Dalam uji coba, mereka berhasil meningkatkan efisiensi konversi energi dari 8 persen menjadi 10,6 persen. Artinya, menggunakan teknik ini, peningkatan sekitar 32 persen atau nyaris satu per tiga kali lipat berhasil diraih.
sumber : vivanews.com
Selasa, 26 April 2011
X-ray Bandara Manchester Bisa Menelanjangi Penumpang
Mengenakan baju lapis berapapun, benda yang disembunyikan akan tetap terlihat jika kita masuk ke Bandara Manchester. Pasalnya, bandara ini menerapkan mesin X-ray yang bisa menunjukkan tubuh seperti tak mengenakan selembar benang pun, saat melewati mesin ini.
x-ray Tentunya mesin ini tidak terkena undang-undang pornografi, karena tujuannya untuk mendeteksi siapapun yang membawa senjata, bom atau benda lain yang digunakan untuk kejahatan.
Mesin pemindai untuk seluruh tubuh ini mampu mendeteksi pembesaran payudara, kaki palsu, tindik dan garis tubuh manusia. Mungkin sebagian merasa risih dengan alat yang tidak senonoh ini.
Penumpang bisa saja tidak relah terlihat seluruh bentuk tubuhnya seperti ditelanjangi. Meskipun, gambar yang ditunjukkan berupa gambar hitam putih dan hanya dilihat oleh seorang petugas yang kemudian akan dihapus.
Para bos ataupun pelancong dapat menolak melewati terminal dua, yang dilengkapi X-ray seluruh tubuh itu. Namun, mereka tetap akan melewati gerbang X-ray lainnya.
Alat scan ini dibuat oleh RapiScan Systems, yang mampu mendeteksi para penumpang lebih cepat karena para penumpang tak perlu melepas jaket, sepatu ataupun sabuk.
sumber : orbit
x-ray Tentunya mesin ini tidak terkena undang-undang pornografi, karena tujuannya untuk mendeteksi siapapun yang membawa senjata, bom atau benda lain yang digunakan untuk kejahatan.
Mesin pemindai untuk seluruh tubuh ini mampu mendeteksi pembesaran payudara, kaki palsu, tindik dan garis tubuh manusia. Mungkin sebagian merasa risih dengan alat yang tidak senonoh ini.
Penumpang bisa saja tidak relah terlihat seluruh bentuk tubuhnya seperti ditelanjangi. Meskipun, gambar yang ditunjukkan berupa gambar hitam putih dan hanya dilihat oleh seorang petugas yang kemudian akan dihapus.
Para bos ataupun pelancong dapat menolak melewati terminal dua, yang dilengkapi X-ray seluruh tubuh itu. Namun, mereka tetap akan melewati gerbang X-ray lainnya.
Alat scan ini dibuat oleh RapiScan Systems, yang mampu mendeteksi para penumpang lebih cepat karena para penumpang tak perlu melepas jaket, sepatu ataupun sabuk.
sumber : orbit
Kacamata Elektronik Pertama di Dunia
Meski terlihat seperti kacamata biasa. Namun inilah alat bantu penglihatan pertama yang menggunakan teknologi elektronik bifocal. Seperti apa?
Kacamata emPower ini memungkinkan pengguna bifocal mengubah sistem pengaturan untuk membaca atau melihat jarak jauh. Kacamata itu mengandung lensa focus elektronik pertama di dunia.
EmPower menggunakan lapisan kristal cair yang bisa berubah-ubah jika diminta pengguna saat pergantian kekuatan fokus.
Pengguna yang memanfaatkan kaca bifocal itu tahu bagaimana penglihatan terdistorsi saat melihat ke bawah tanah. Mereka terkadang terpaksa memiringkan kepala ke bawah atau menyentuh frame untuk memperjelas penglihatan.
Kacamata itu diproduksi oleh PixelOptics dan dipamerkan pada International Vision Expo East di New York, Amerika Serikat. Pengisian baterai selama delapan jam memungkinkan penggunaan dua sampai tiga hari.
Namun produk ini cukup mahal yaitu US$1.000 (Rp 9 juta).
sumber : teknologi.inilah.com
Kacamata emPower ini memungkinkan pengguna bifocal mengubah sistem pengaturan untuk membaca atau melihat jarak jauh. Kacamata itu mengandung lensa focus elektronik pertama di dunia.
EmPower menggunakan lapisan kristal cair yang bisa berubah-ubah jika diminta pengguna saat pergantian kekuatan fokus.
Pengguna yang memanfaatkan kaca bifocal itu tahu bagaimana penglihatan terdistorsi saat melihat ke bawah tanah. Mereka terkadang terpaksa memiringkan kepala ke bawah atau menyentuh frame untuk memperjelas penglihatan.
Kacamata itu diproduksi oleh PixelOptics dan dipamerkan pada International Vision Expo East di New York, Amerika Serikat. Pengisian baterai selama delapan jam memungkinkan penggunaan dua sampai tiga hari.
Namun produk ini cukup mahal yaitu US$1.000 (Rp 9 juta).
sumber : teknologi.inilah.com
X-47B, Pesawat dengan Kendali Mouse
Umumnya, untuk menerbangkan pesawat militer berteknologi terkini, para penerbang harus memiliki kemampuan dan pengetahuan khusus yang tinggi agar dapat memaksimalkan seluruh kemampuan pesawat tempur yang ia tunggangi.
Belakangan, sistem tak berawak telah membebaskan pilot dari kewajiban mengendarai pesawat dan melakukan misi tempur berbahaya walau pilot dengan kemampuan tertentu tetap harus berada di kemudi, meski dari jarak jauh.
Namun itu akan segera berakhir. Sistem pesawat tempur eksperimen yang sedang dikembangkan angkatan laut AS bersama Northrop Grumman yakni X-47B tidak akan dikemudikan oleh pilot dari jarak jauh. Ia hampir seluruhnya diterbangkan secara otomatis.
Keterlibatan manusia tidak lagi menggunakan kokpit jarak jauh, cukup hanya sebatas mengklik pada mouse saja.
"X-47B akan dipiloti tidak oleh manusia dalam kokpit jarak jauh, melainkan oleh 3,4 juta baris kode program," kata Janis Pamiljans, Vice President Northrop yang menangani teknologi Unmanned Combat Air System Demonstration.
Pamiljans menyebutkan, fungsi-fungsi lainnya bisa ditangani oleh personel yang bukan pilot karena mereka hanya perlu sekali klik mouse untuk menyalakan mesin, satu klik untuk memacu pesawat, satu klik untuk tinggal landas, dan lain-lain.
Namun demikian, menurut Jaime Engdahl, seorang kapten pilot penerbang angkatan laut menyatakan, ada satu hal yang perlu dipelajari lebih lanjut yakni mendaratkan pesawat di kapal induk yang sedang berlayar di laut. "Pendaratan seperti ini sangat spesial dan sangat spesifik. Untuk itu aspek otomatis pada pesawat ini harus disesuaikan dengan tiap kondisi," ucapnya.
Hal lain yang juga perlu diuji coba secara mendalam adalah seputar persenjataan. Sebagai informasi, pesawat ini mampu membawa senjata dengan bobot hingga 2,25 ton. Padahal, kata Engdahl, pesawat ini menggunakan autopilot selama 100 persen durasi penerbangan.
sumber : vivanews.com
Belakangan, sistem tak berawak telah membebaskan pilot dari kewajiban mengendarai pesawat dan melakukan misi tempur berbahaya walau pilot dengan kemampuan tertentu tetap harus berada di kemudi, meski dari jarak jauh.
Namun itu akan segera berakhir. Sistem pesawat tempur eksperimen yang sedang dikembangkan angkatan laut AS bersama Northrop Grumman yakni X-47B tidak akan dikemudikan oleh pilot dari jarak jauh. Ia hampir seluruhnya diterbangkan secara otomatis.
Keterlibatan manusia tidak lagi menggunakan kokpit jarak jauh, cukup hanya sebatas mengklik pada mouse saja.
"X-47B akan dipiloti tidak oleh manusia dalam kokpit jarak jauh, melainkan oleh 3,4 juta baris kode program," kata Janis Pamiljans, Vice President Northrop yang menangani teknologi Unmanned Combat Air System Demonstration.
Pamiljans menyebutkan, fungsi-fungsi lainnya bisa ditangani oleh personel yang bukan pilot karena mereka hanya perlu sekali klik mouse untuk menyalakan mesin, satu klik untuk memacu pesawat, satu klik untuk tinggal landas, dan lain-lain.
Namun demikian, menurut Jaime Engdahl, seorang kapten pilot penerbang angkatan laut menyatakan, ada satu hal yang perlu dipelajari lebih lanjut yakni mendaratkan pesawat di kapal induk yang sedang berlayar di laut. "Pendaratan seperti ini sangat spesial dan sangat spesifik. Untuk itu aspek otomatis pada pesawat ini harus disesuaikan dengan tiap kondisi," ucapnya.
Hal lain yang juga perlu diuji coba secara mendalam adalah seputar persenjataan. Sebagai informasi, pesawat ini mampu membawa senjata dengan bobot hingga 2,25 ton. Padahal, kata Engdahl, pesawat ini menggunakan autopilot selama 100 persen durasi penerbangan.
sumber : vivanews.com
Senin, 25 April 2011
Bagaimana Rasanya Seks di Luar Angkasa?
Sepanjang sejarah eksplorasi antariksa Rusia, hubungan seksual di luar angkasa tak pernah ada. Begitu juga eksperimen pengaruh kondisi gravitasi terhadap seks, hal itu juga isapan jempol belaka.
"Tak ada bukti resmi maupun tak resmi tentang adanya hubungan seksual maupun eksperimen seks di antariksa, " kata Valery Bogomolov, Deputi Direktur Institute of Biomedical Problems yang berbasis di Moskwa.
"Setidaknya, dalam sejarah eksplorasi luar angkasa Rusia ataupun Uni Soviet, kasus ini sudah pasti tidak ada," katanya dalam wawancara dengan agensi berita Interfax,
Bagaimana dengan Amerika Serikat? Bogomolov mengungkapkan, "Untuk eksplorasi antariksa AS, saya tak memiliki informasi yang mengatakan membantahnya. Hanya ada informasi rumor anekdot yang tak pantas dipercaya."
Sementara, veteran misi antariksa AS tahun 1994-2005, Leroy Chiao, mengatakan, "Saya tak begitu paham tentang aturan NASA mengenai hal ini. Tak ada diskusi saat saya di sana. Tak ada yang membawa isu ini sehingga tak jadi pertimbangan."
NASA sejauh ini tak memiliki aturan yang secara eksplisit melarang atau memperbolehkan seks di luar angkasa. Astronot hanya diminta untuk mengupayakan hubungan berdasarkan kepercayaan dan profesionalitas.
Secara pribadi, Chiao yang menghabiskan 229 hari di antariksa meragukan adanya seks di luar angkasa. "Pria tetap pria. Jika mereka melakukannya, mereka takkan bisa menahan untuk tak membicarakan hal itu," cetusnya.
Ia melanjutkan, "Maaf mengecewakan Anda semua, tetapi memang begitulah keadaannya. Kita akan tahu ini nanti. Atau, saya harus mengatakan bahwa kita akan tahu nanti saat hal itu terjadi."
Terlepas dari benar tidaknya rumor tersebut, seks di luar angkasa harus bisa terjadi nanti. Target misi ke Mars yang diperkirakan akan berlangsung dalam hitungan tahun akan menjadi persoalan jika tak memungkinkan adanya seks.
Seks juga sangat jika manusia bercita-cita membangun koloni di bulan dan Mars. Tentu tak mungkin mendatangkan manusia terus-menerus dari bumi. Ke depan, wisata antariksa yang dirancang Virgin Galactic, misalnya, juga mesti membuka pintu lebih lebar untuk seks di antariksa ini.
sumber : sains.kompas.com
"Tak ada bukti resmi maupun tak resmi tentang adanya hubungan seksual maupun eksperimen seks di antariksa, " kata Valery Bogomolov, Deputi Direktur Institute of Biomedical Problems yang berbasis di Moskwa.
"Setidaknya, dalam sejarah eksplorasi luar angkasa Rusia ataupun Uni Soviet, kasus ini sudah pasti tidak ada," katanya dalam wawancara dengan agensi berita Interfax,
Bagaimana dengan Amerika Serikat? Bogomolov mengungkapkan, "Untuk eksplorasi antariksa AS, saya tak memiliki informasi yang mengatakan membantahnya. Hanya ada informasi rumor anekdot yang tak pantas dipercaya."
Sementara, veteran misi antariksa AS tahun 1994-2005, Leroy Chiao, mengatakan, "Saya tak begitu paham tentang aturan NASA mengenai hal ini. Tak ada diskusi saat saya di sana. Tak ada yang membawa isu ini sehingga tak jadi pertimbangan."
NASA sejauh ini tak memiliki aturan yang secara eksplisit melarang atau memperbolehkan seks di luar angkasa. Astronot hanya diminta untuk mengupayakan hubungan berdasarkan kepercayaan dan profesionalitas.
Secara pribadi, Chiao yang menghabiskan 229 hari di antariksa meragukan adanya seks di luar angkasa. "Pria tetap pria. Jika mereka melakukannya, mereka takkan bisa menahan untuk tak membicarakan hal itu," cetusnya.
Ia melanjutkan, "Maaf mengecewakan Anda semua, tetapi memang begitulah keadaannya. Kita akan tahu ini nanti. Atau, saya harus mengatakan bahwa kita akan tahu nanti saat hal itu terjadi."
Terlepas dari benar tidaknya rumor tersebut, seks di luar angkasa harus bisa terjadi nanti. Target misi ke Mars yang diperkirakan akan berlangsung dalam hitungan tahun akan menjadi persoalan jika tak memungkinkan adanya seks.
Seks juga sangat jika manusia bercita-cita membangun koloni di bulan dan Mars. Tentu tak mungkin mendatangkan manusia terus-menerus dari bumi. Ke depan, wisata antariksa yang dirancang Virgin Galactic, misalnya, juga mesti membuka pintu lebih lebar untuk seks di antariksa ini.
sumber : sains.kompas.com
Jumat, 22 April 2011
Kulit Manusia Kini Bisa Dibuat di Pabrik
Ide ilmuwan Fraunhofer Institute for Interfacial Engineering and Biotechnology Jerman memproduksi kulit manusia buatan dalam skala besar kini terwujud. Seperti apa?
Jerman kini memiliki pabrik kulit manusia dan produksinya dibantu robot. Robot-robot itu meremas larutan kimia merah muda kemudian memasukkannya ke dalam alat semacam pipet dan mengubahnya menjadi calon lembaran kulit manusia.
Pabrik itu bisa menghasilkan lima ribu jaringan tembus pandang berwarna putih seukuran uang koin tiap bulannya. Jaringan calon kulit yang diproduksi bisa juga berwarna coklat. Dalam calon kulit itu juga terdapat pembuluh darah dan bisa dipakai mengobati luka kulit.
Setiap jaringan dihargai US$72 (Rp620 ribu). Jaringan ini memang terbilang mahal.
Seperti dikutip Pop Science, dua tahun lalu para ilmuwan berharap, pabrik ini bisa menghasilkan kulit buatan dengan harga terjangkau demi kepentingan studi dan pengobatan.
Kulit yang diproduksi robot ini diawasi dengan ketat agar terhindar dari infeksi.
"Kami yakin pabrik semacam ini bisa menjadi cara efisien menghasilkan jaringan baru, termasuk kemih, trakea, tulang rawan bahkan organ tubuh,” kata direktur pabrik kulit Heike Walles.
Walles dan tim ilmuwan berhasil memproduksi jaringan untuk transplantasi manusia. Namun, proses ini masih sangat mahal.
"Fasilitas produksi jaringan semacam ini diharapkan bisa lebih memudahkan dan mengurangi biaya,” tutup Walles.
sumber : teknologi.inilah.com
Jerman kini memiliki pabrik kulit manusia dan produksinya dibantu robot. Robot-robot itu meremas larutan kimia merah muda kemudian memasukkannya ke dalam alat semacam pipet dan mengubahnya menjadi calon lembaran kulit manusia.
Pabrik itu bisa menghasilkan lima ribu jaringan tembus pandang berwarna putih seukuran uang koin tiap bulannya. Jaringan calon kulit yang diproduksi bisa juga berwarna coklat. Dalam calon kulit itu juga terdapat pembuluh darah dan bisa dipakai mengobati luka kulit.
Setiap jaringan dihargai US$72 (Rp620 ribu). Jaringan ini memang terbilang mahal.
Seperti dikutip Pop Science, dua tahun lalu para ilmuwan berharap, pabrik ini bisa menghasilkan kulit buatan dengan harga terjangkau demi kepentingan studi dan pengobatan.
Kulit yang diproduksi robot ini diawasi dengan ketat agar terhindar dari infeksi.
"Kami yakin pabrik semacam ini bisa menjadi cara efisien menghasilkan jaringan baru, termasuk kemih, trakea, tulang rawan bahkan organ tubuh,” kata direktur pabrik kulit Heike Walles.
Walles dan tim ilmuwan berhasil memproduksi jaringan untuk transplantasi manusia. Namun, proses ini masih sangat mahal.
"Fasilitas produksi jaringan semacam ini diharapkan bisa lebih memudahkan dan mengurangi biaya,” tutup Walles.
sumber : teknologi.inilah.com
Senin, 18 April 2011
Teleskop NASA Rekam Jutaan Galaksi
Data pertama dari misi NASA untuk memetakan seluruh langit telah dirilis ilmuwan di internet. Hasilnya jutaan galaksi muncul dengan warna-warna menakjubkan. Seperti apa?
Katalog langit yang dipublikasikan minggu ini meliputi jutaan galaksi, bintang, asteroid dan objek luar angkasa lainnya.
Meski sebelumnya berbagai ilmuwan sudah melakukan penelitian langit, namun karya terbaru NASA itu berhasil merekam penemuan baru, 33.000 asteroid dan 20 komet, misalnya.
Teleskop Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE) diluncurkan pada 2009 untuk memindai seluruh langit secara rinci dalam lingkup lebih besar, dibandingkan sebelumnya.
WISE sempat hibernasi di awal tahun setelah memetakan langit 1,5 kali lebih besar. Proyek itu dikelola oleh Jet Propulsion Laboratory milik NASA
sumber : teknologi.inilah.com
Katalog langit yang dipublikasikan minggu ini meliputi jutaan galaksi, bintang, asteroid dan objek luar angkasa lainnya.
Meski sebelumnya berbagai ilmuwan sudah melakukan penelitian langit, namun karya terbaru NASA itu berhasil merekam penemuan baru, 33.000 asteroid dan 20 komet, misalnya.
Teleskop Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE) diluncurkan pada 2009 untuk memindai seluruh langit secara rinci dalam lingkup lebih besar, dibandingkan sebelumnya.
WISE sempat hibernasi di awal tahun setelah memetakan langit 1,5 kali lebih besar. Proyek itu dikelola oleh Jet Propulsion Laboratory milik NASA
sumber : teknologi.inilah.com
Senin, 11 April 2011
Kulit Sakti Bungkus Pesawat Masa Depan
Cessna mengembangkan kulit sakti yang akan melindungi eksterior pesawat terbang dari petir, tabrakan, temperatur ekstrem, bahkan interferensi elektromagnetik. Semakin sakti, kulit itu bisa menyembuhkan diri sendiri kalau mengalami retakan.
Ide teknologi ini berasal dari teknologi pesawat yang diselesaikan tahun lalu, STAR-C2. Idenya adalah membuat kulit luar dari film yang dapat menyalurkan listrik dan busa penyerap energi yang melapisi seluruh badan pesawat.
Tim GE/Cessna menyatakan bahwa kulit seperti itu dapat mengurangi separuh beban dari alat penangkal bahaya lingkungan. Kulit ini juga didesain untuk menampilkan kerusakan dengan jelas sehingga para penyidik di darat bisa melihat kerusakan pada badan pesawat.
Kulit pembungkus itu sendiri dapat memperbaiki dirinya saat robek atau tertusuk. Bonus lain, kebisingan di kabin akibat mesin dapat dikurangi.
Namun, teknologi ini jangan diharap segera diterapkan. Para ilmuwan mungkin baru selesai membuatnya 20 atau 25 tahun lagi.
sumber : sains.kompas.com
Ide teknologi ini berasal dari teknologi pesawat yang diselesaikan tahun lalu, STAR-C2. Idenya adalah membuat kulit luar dari film yang dapat menyalurkan listrik dan busa penyerap energi yang melapisi seluruh badan pesawat.
Tim GE/Cessna menyatakan bahwa kulit seperti itu dapat mengurangi separuh beban dari alat penangkal bahaya lingkungan. Kulit ini juga didesain untuk menampilkan kerusakan dengan jelas sehingga para penyidik di darat bisa melihat kerusakan pada badan pesawat.
Kulit pembungkus itu sendiri dapat memperbaiki dirinya saat robek atau tertusuk. Bonus lain, kebisingan di kabin akibat mesin dapat dikurangi.
Namun, teknologi ini jangan diharap segera diterapkan. Para ilmuwan mungkin baru selesai membuatnya 20 atau 25 tahun lagi.
sumber : sains.kompas.com
Minggu, 10 April 2011
Isi Baterai Smartphone dengan Tenaga Angin
Pernah mendengar ponsel berbasis tenaga surya? Ya, sekitar pertengahan tahun lalu Puma Phone muncul sebagai smartphone pertama dilengkapi panel tata surya. Ia dijual terbatas. Konsepnya cukup bagus untuk sebuah smartphone. Tetapi, jika ditawarkan mungkin Anda akan menimbang ulang mengganti ponsel Anda lagi.
Bagaimana jika teknologi berbasis tenaga surya itu muncul di charger ponsel? Berbicara soal charger atau pengisi ulang baterai ponsel, Anda pasti tahu adanya charger berbasis panel surya. Atau, beberapa dari Anda mungkin sudah memilikinya. Ini memang bukan sesuatu yang baru. Charger panel surya ini hadir ketika ada kebutuhan isi ulang baterai ponsel di saat darurat, atau tak ada arus listrik.
Ide ini ternyata cukup inspiratif. Setidaknya bagi Lance Cassidy yang berhasil membuat konsep lain berupa charger ponsel berbasis tenaga angin. Dengan menggunakan turbin angin, baterai ponsel akan diisi ulang tanpa harus melibatkan arus listrik.
Konsep teknologi itu bernama Aero E Wind Power Generator. Energi terkonversi dari angin menjadi arus listrik yang ditransfer secara nirkabel melalui induksi. Letakkan ponsel Anda pada pad yang tersedia, dan tancapkan dia di jendela rumah Anda. Biarkan tetangga Anda dibuat kagum olehnya.
Turbin ini memancarkan daya secara nirkabel ke saku pengisian, di mana pad tadi ditempatkan. Seperti mendepositkan daya listrik dari tenaga angin. Ketika Anda pulang dari tempat Anda bekerja, Anda mempunyai charger siap pakai.
Nantinya, akan diciptakan pula sebuah aplikasi khusus smartphone untuk memungkinkan pengguna terhubung dengan turbin mereka dari manapun melalui koneksi Internet. Sehingga pengguna dapat melacak pola angin serta mengatur kapan turbin itu menyala atau mati.
Ide ini bisa dikembangkan oleh siapa saja. Tetapi, konsep ini bisa menjadi teknologi energi alternatif yang diproduksi masif suatu waktu nanti. Kemungkinan ia akan diburu oleh penghuni rumah apartemen atau backpacker yang berkantong pas-pasan.
sumber : teknologi.vivanews.com
Bagaimana jika teknologi berbasis tenaga surya itu muncul di charger ponsel? Berbicara soal charger atau pengisi ulang baterai ponsel, Anda pasti tahu adanya charger berbasis panel surya. Atau, beberapa dari Anda mungkin sudah memilikinya. Ini memang bukan sesuatu yang baru. Charger panel surya ini hadir ketika ada kebutuhan isi ulang baterai ponsel di saat darurat, atau tak ada arus listrik.
Ide ini ternyata cukup inspiratif. Setidaknya bagi Lance Cassidy yang berhasil membuat konsep lain berupa charger ponsel berbasis tenaga angin. Dengan menggunakan turbin angin, baterai ponsel akan diisi ulang tanpa harus melibatkan arus listrik.
Konsep teknologi itu bernama Aero E Wind Power Generator. Energi terkonversi dari angin menjadi arus listrik yang ditransfer secara nirkabel melalui induksi. Letakkan ponsel Anda pada pad yang tersedia, dan tancapkan dia di jendela rumah Anda. Biarkan tetangga Anda dibuat kagum olehnya.
Turbin ini memancarkan daya secara nirkabel ke saku pengisian, di mana pad tadi ditempatkan. Seperti mendepositkan daya listrik dari tenaga angin. Ketika Anda pulang dari tempat Anda bekerja, Anda mempunyai charger siap pakai.
Nantinya, akan diciptakan pula sebuah aplikasi khusus smartphone untuk memungkinkan pengguna terhubung dengan turbin mereka dari manapun melalui koneksi Internet. Sehingga pengguna dapat melacak pola angin serta mengatur kapan turbin itu menyala atau mati.
Ide ini bisa dikembangkan oleh siapa saja. Tetapi, konsep ini bisa menjadi teknologi energi alternatif yang diproduksi masif suatu waktu nanti. Kemungkinan ia akan diburu oleh penghuni rumah apartemen atau backpacker yang berkantong pas-pasan.
sumber : teknologi.vivanews.com
Angkot Superbus Ramah Lingkungan Milik Belanda
Belanda kini mengembangkan Superbus, angkutan umum ramah lingkungan yang mampu mebawa 23 penumpang. Angkutan ini miliki kecepatan 155 mil/jam. Apa lagi keunggulannya?
Berdasarkan laporan BBC, kendaraan yang menunjukkan citra seni tinggi negara itu merupakan gagasan dari astronot Belanda, Wubbo Ockerls yang saat ini dikenal sebagai profesor teknik dan teknologi kedirgantaraan.
Kendaraan yang berbiaya 13 juta euro itu, menurut kepala desainer Superbus Antonia Terzi yang juga mantan kepala tim BMW-Williams Formula 1, merupakan kendaraan yang ramah lingkungan untuk mengatasi tantangan mobilitas, perencanaan tata ruang, detil layanan dan tututan lingkungan.
Kendaraan yang menggunakan serat karbon dan finerglass itu akan dipamerkan di Dubai, bulan depan.
sumber :teknologi.inilah.com
Berdasarkan laporan BBC, kendaraan yang menunjukkan citra seni tinggi negara itu merupakan gagasan dari astronot Belanda, Wubbo Ockerls yang saat ini dikenal sebagai profesor teknik dan teknologi kedirgantaraan.
Kendaraan yang berbiaya 13 juta euro itu, menurut kepala desainer Superbus Antonia Terzi yang juga mantan kepala tim BMW-Williams Formula 1, merupakan kendaraan yang ramah lingkungan untuk mengatasi tantangan mobilitas, perencanaan tata ruang, detil layanan dan tututan lingkungan.
Kendaraan yang menggunakan serat karbon dan finerglass itu akan dipamerkan di Dubai, bulan depan.
sumber :teknologi.inilah.com
Jumat, 08 April 2011
Terpecahkan, Misteri Semburan Sinar Gamma
Greenbelt – Peneliti mengatakan, simulasi komputer super Jerman menunjukkan, tabrakan netron bintang dapat memproduksi struktur magnetis yang memicu semburan sinar Gamma (GRB).
GRB merupakan salah satu peristiwa kosmik yang dikenal paling enerjik. Semburan ini memancarkan banyak energi dalam beberapa detik seperti yang dilakukan galaksi kita dalam setahun. Sinar Gamma merupakan bentuk tertinggi energi cahaya.
Simulasi yang dilakukan selama hampir sepekan pada komputer Damiana di Albert Einstein Institute di Potsdam, Jerman, ini memberi gambaran GRB yang terjadi hanya dalam 35 milidetik, sekitar tiga kali lebih cepat dari kedipan mata.
NASA mengatakan, GRB yang berlangsung lebih dari dua detik secara luas dianggap dipicu oleh runtuhnya bintang besar ke dalam lubang hitam. Seiring jatuhnya materi ke lubang hitam, beberapa materi membentuk jet dengan arah berlawanan yang bergerak mendekati kecepatan cahaya dan menghasilkan GRB.
GRB yang lebih pendek hanya berlangsung satu milidetik, dan menjadi obyek yang lebih sulit untuk dipelajari.
"Selama lebih dari dua dekade, model GRB pendek terkemuka adalah perpaduan dua bintang neutron,” kata Bruno Giacomazzo dari University of Maryland dan Goddard Space Flight Center NASA.
“Kini kita mengetahui, penggabungan bintang neutron memang benar-benar menghasilkan medan magnet ultrastrong yang terstruktur seperti jet yang dibutuhkan GRB," katanya
sumber : teknologi.inilah.com
GRB merupakan salah satu peristiwa kosmik yang dikenal paling enerjik. Semburan ini memancarkan banyak energi dalam beberapa detik seperti yang dilakukan galaksi kita dalam setahun. Sinar Gamma merupakan bentuk tertinggi energi cahaya.
Simulasi yang dilakukan selama hampir sepekan pada komputer Damiana di Albert Einstein Institute di Potsdam, Jerman, ini memberi gambaran GRB yang terjadi hanya dalam 35 milidetik, sekitar tiga kali lebih cepat dari kedipan mata.
NASA mengatakan, GRB yang berlangsung lebih dari dua detik secara luas dianggap dipicu oleh runtuhnya bintang besar ke dalam lubang hitam. Seiring jatuhnya materi ke lubang hitam, beberapa materi membentuk jet dengan arah berlawanan yang bergerak mendekati kecepatan cahaya dan menghasilkan GRB.
GRB yang lebih pendek hanya berlangsung satu milidetik, dan menjadi obyek yang lebih sulit untuk dipelajari.
"Selama lebih dari dua dekade, model GRB pendek terkemuka adalah perpaduan dua bintang neutron,” kata Bruno Giacomazzo dari University of Maryland dan Goddard Space Flight Center NASA.
“Kini kita mengetahui, penggabungan bintang neutron memang benar-benar menghasilkan medan magnet ultrastrong yang terstruktur seperti jet yang dibutuhkan GRB," katanya
sumber : teknologi.inilah.com
Kamis, 07 April 2011
Richard Branson Wujudkan Jet Dasar Laut
Siapa saja yang mengenal Sir Richard Branson tidak akan kaget dengan kabar teranyar ini. Setelah merintis wisata murah ke luar angkasa lewat Virgin Galactic.
Salah satu pengusaha terkaya dari Inggris itu kini bermimpi bisa menyediakan jet dasar laut untuk membawa pengalaman baru ke tempat yang sulit dijamah.
Branson menamakan proyek barunya sebagai Virgin Oceanic. Nama itu selaras dengan maskapai penerbangannya yang bernama Virgin Atlantic dan proyek wisata luar angkasa Virgin Galactic. Ia memperkenalkan kendaraan yang disebut jet dasar laut yang akan digunakan Virgin Oceanic.
"Kapal sepanjang 18 kaki (5,5 meter) ini bisa menyelam hingga kedalaman 11 kilometer di bawah permukaan laut," kata Branson memperkenalkan jet dasar laut yang dikembangkan Virgin Oceanic pada konferensi pers di Newport Beach, California, Selasa (5/4/2011) waktu setempat.
Kendaraan tersebut berpenumpang tunggal. Branson mengatakan, jet dasar laut Virgin Oceanic sanggup membawa pengendaranya selama seharian di dasar laut dalam. Ia memperkirakan, biaya untuk sekali perjalanan ke palung dasar laut sekitar 10 juta dollar AS (sekitar Rp 86 miliar).
Virgin Oceanic akan melakukan lima kali penyelaman dalam dua tahun ke depan. Sasaran pertama adalah mendekati Palung Mariana di Samudra Pasifik pada kedalaman 36.000 kaki atau sekitar 11 kilometer dari permukaan laut. Branson berencana melakukannya sendiri pada kesempatan kedua ke Palung Puerto Rico di Samudra Atlantik. Daerah lain yang akan dikunjungi adalah Molloy Deep di Laut Arktik, Kutub Utara, Palung South Sandwich, dan Diamantina di Laut Hindia.
"Di sana banyak sekali yang bisa diekplorasi. Begitu banyak yang bisa ditemui," kata Branson. Ia berharap terobosan yang dilakukannya bisa turut menyumbang ilmu pengetahuan yang berguna bagi kehidupan manusia di masa depan.
sumber: kompas
Salah satu pengusaha terkaya dari Inggris itu kini bermimpi bisa menyediakan jet dasar laut untuk membawa pengalaman baru ke tempat yang sulit dijamah.
Branson menamakan proyek barunya sebagai Virgin Oceanic. Nama itu selaras dengan maskapai penerbangannya yang bernama Virgin Atlantic dan proyek wisata luar angkasa Virgin Galactic. Ia memperkenalkan kendaraan yang disebut jet dasar laut yang akan digunakan Virgin Oceanic.
"Kapal sepanjang 18 kaki (5,5 meter) ini bisa menyelam hingga kedalaman 11 kilometer di bawah permukaan laut," kata Branson memperkenalkan jet dasar laut yang dikembangkan Virgin Oceanic pada konferensi pers di Newport Beach, California, Selasa (5/4/2011) waktu setempat.
Kendaraan tersebut berpenumpang tunggal. Branson mengatakan, jet dasar laut Virgin Oceanic sanggup membawa pengendaranya selama seharian di dasar laut dalam. Ia memperkirakan, biaya untuk sekali perjalanan ke palung dasar laut sekitar 10 juta dollar AS (sekitar Rp 86 miliar).
Virgin Oceanic akan melakukan lima kali penyelaman dalam dua tahun ke depan. Sasaran pertama adalah mendekati Palung Mariana di Samudra Pasifik pada kedalaman 36.000 kaki atau sekitar 11 kilometer dari permukaan laut. Branson berencana melakukannya sendiri pada kesempatan kedua ke Palung Puerto Rico di Samudra Atlantik. Daerah lain yang akan dikunjungi adalah Molloy Deep di Laut Arktik, Kutub Utara, Palung South Sandwich, dan Diamantina di Laut Hindia.
"Di sana banyak sekali yang bisa diekplorasi. Begitu banyak yang bisa ditemui," kata Branson. Ia berharap terobosan yang dilakukannya bisa turut menyumbang ilmu pengetahuan yang berguna bagi kehidupan manusia di masa depan.
sumber: kompas
Rabu, 06 April 2011
SpaceX Rancang Roket Antariksa Terbesar
Space Exploration Technology (SpaceX) tengah mengembangkan roket terbesar sejak misi pendaratan manusia ke bulan. Roket tersebut mampu membawa muatan dengan kapasitas dua kali lebih besar dibanding pesawat ulang alik NASA serta berbiaya lebih murah.
Roket terbaru SpaceX itu dinamai Falcon Heavy. Roket tersebut merupakan pengembangan dari roket sebelumnya bernama Falcon 9, roket yang telah melakukan dua kali peluncuran dan dibeli NASA untuk penerbangan kargo ke International Space Station setelah program pesawat ulang alik selesai tahun ini.
Falcon Heavy memiliki kelebihan sebab mampu membawa muatan sebanyak 53.071 kg, dua kali dari muatan pesawat ulang alik yang cuma 22.680 kg. Dengan biaya 80 juta-125 juta dollar AS per peluncuran, biaya penggunaan roket ini 1/10 dari pesawat ulang alik yang menelan dana 1,5 miliar dollar AS.
CEO SpaceX Elon Musk mengatakan, "Roket ini memiliki kapabilitas yang lebih tinggi dibanding semua kendaraan, kecuali Saturn V. Ini membuka kemungkinan bagi pemerintah dan misi angkasa komersial yang hingga saat ini tak terdukung dengan kapasitas yang ada sekarang."
Falcon Heavy sebenanrnya didesain sebagai pesawat kargo. Namun, karena memenuhi persyaratan keselamatan NASA, roket itu bisa digunakan untuk membawa manusia. Tak cuma ke orbit bumi, Falcon Heavy diklaim juga bisa mengantarkan manusia dalam misi menuju bulan, Mars, dan asteroid.
SpaceX mengklaim bahwa kemampuan Falcon Heavy hanya bisa ditandingi oleh Saturn V yang berhasil membantu mengantarkan manusia ke bulan dan membawa 200.000 kg muatan kargo. Roket ini rencananya akan menjalani uji coba terbang pada tahun 2013 di California dan selanjutnya di Cape Canaveral, Florida.
sumber : sains.kompas.com
Roket terbaru SpaceX itu dinamai Falcon Heavy. Roket tersebut merupakan pengembangan dari roket sebelumnya bernama Falcon 9, roket yang telah melakukan dua kali peluncuran dan dibeli NASA untuk penerbangan kargo ke International Space Station setelah program pesawat ulang alik selesai tahun ini.
Falcon Heavy memiliki kelebihan sebab mampu membawa muatan sebanyak 53.071 kg, dua kali dari muatan pesawat ulang alik yang cuma 22.680 kg. Dengan biaya 80 juta-125 juta dollar AS per peluncuran, biaya penggunaan roket ini 1/10 dari pesawat ulang alik yang menelan dana 1,5 miliar dollar AS.
CEO SpaceX Elon Musk mengatakan, "Roket ini memiliki kapabilitas yang lebih tinggi dibanding semua kendaraan, kecuali Saturn V. Ini membuka kemungkinan bagi pemerintah dan misi angkasa komersial yang hingga saat ini tak terdukung dengan kapasitas yang ada sekarang."
Falcon Heavy sebenanrnya didesain sebagai pesawat kargo. Namun, karena memenuhi persyaratan keselamatan NASA, roket itu bisa digunakan untuk membawa manusia. Tak cuma ke orbit bumi, Falcon Heavy diklaim juga bisa mengantarkan manusia dalam misi menuju bulan, Mars, dan asteroid.
SpaceX mengklaim bahwa kemampuan Falcon Heavy hanya bisa ditandingi oleh Saturn V yang berhasil membantu mengantarkan manusia ke bulan dan membawa 200.000 kg muatan kargo. Roket ini rencananya akan menjalani uji coba terbang pada tahun 2013 di California dan selanjutnya di Cape Canaveral, Florida.
sumber : sains.kompas.com
Selasa, 05 April 2011
Proyek Teleskop Terbesar di Dunia
Proyek teleskop radio terbesar di dunia tengah diupayakan oleh beberapa negara, termasuk kalangan ilmuwan. Pembangunan teleskop bernama Square Kilometre Array (SKA) tersebut diperkirakan mencapai angka 2,1 miliar dollar AS.
Ketika sudah terbangun, teleskop itu akan berukuran 50 kali lebih besar dari teleskop saat ini. Teleskop akan terdiri dari 3.000 antena yang merentang di wilayah sepanjang 5.500 km. Separuh antena akan berada di wilayah sentral seluas 25 km persegi.
Semua informasi yang diterima akan ditransfer dengan kecepatan 100 TB per detik. Informasi akan diproses di sebuah superkomputer yang bekerja dengan kecepatan 1 juta juta juta per detik, atau 1 exabyte.
Ada dua pilihan lokasi tempat pembangunan teleskop superbesar itu, yaitu Australia dan Afrika Selatan. Penentuan lokasi akan dilakukan tahun 2012 nanti berdasarkan beberapa faktor, salah satunya adalah rendahnya gangguan frekuensi radio.
Lalu, apa gunanya SKA itu nanti? Professor Dame Jocelyn Bell Burnell, astronom terkemuka dan President The Institute of Physics, mengatakan, kekuatan teleskop radio ini akan melampaui hal-hal yang pernah kita lihat sekarang.
"SKA akan menjadi teleskop radio pertama yang membuat kita mampu memahami apa yang terjadi pada ratusan tahun pertama setelah Big Bang dan melacak sejarah gas, gas di mana bintang berasal sepanjang masa kosmos," kata Boyle.
"SKA bisa memungkinkan kita melihat bagaimana gas membentuk bintang dan bintang membentuk galaksi. Anda juga bisa melihat beberapa bintang beserta piringan dan material terbentuk di sekitarnya yang akan membentuk planet," lanjut Boyle.
Boyle mengungkapkan, SKA menandai perkembangan fisika pasca-Einstein yang akan membantu manusia untuk membuat langkah memahami obyek-obyek angkasa mengagumkan dan masa tergelap jagat raya.
Meski demikian, Boyle tak mengungkapkan lebih spesifik apa yang akan ditemukan dengan SKA. Ketika ditanya, ia hanya menuturkan, "Jika saya bisa memprediksi, maka kami tak akan sebegitu ambisius."
Teknologi yang dibutuhkan untuk mengembangkan SKA sendiri hingga kini belum ada. Namun, kolaborasi antara ilmuwan dan industri diharapkan bisa menyediakannya dalam jangka waktu lebih cepat.
Kesepakatan pembangunan SKA ditandatangani oleh beberapa negara dalam pertemuan di Roma. Negara yang menandatangani, antara lain Australia, China, Perancis, Jerman, Italia, Selandia Baru, Belanda, Afrika Selatan, dan Inggris.
Totalnya, ada 20 negara yang terlibat pembangunan teleskop ini. Mereka akan membentuk badan perencanaan legal pada pertengahan 2011. Inggris berencana untuk berinvestasi sebanyak 24 juta dollar AS dalam fase lanjut pembangunan SKA.
sumber : sains.kompas.com
Ketika sudah terbangun, teleskop itu akan berukuran 50 kali lebih besar dari teleskop saat ini. Teleskop akan terdiri dari 3.000 antena yang merentang di wilayah sepanjang 5.500 km. Separuh antena akan berada di wilayah sentral seluas 25 km persegi.
Semua informasi yang diterima akan ditransfer dengan kecepatan 100 TB per detik. Informasi akan diproses di sebuah superkomputer yang bekerja dengan kecepatan 1 juta juta juta per detik, atau 1 exabyte.
Ada dua pilihan lokasi tempat pembangunan teleskop superbesar itu, yaitu Australia dan Afrika Selatan. Penentuan lokasi akan dilakukan tahun 2012 nanti berdasarkan beberapa faktor, salah satunya adalah rendahnya gangguan frekuensi radio.
Lalu, apa gunanya SKA itu nanti? Professor Dame Jocelyn Bell Burnell, astronom terkemuka dan President The Institute of Physics, mengatakan, kekuatan teleskop radio ini akan melampaui hal-hal yang pernah kita lihat sekarang.
"SKA akan menjadi teleskop radio pertama yang membuat kita mampu memahami apa yang terjadi pada ratusan tahun pertama setelah Big Bang dan melacak sejarah gas, gas di mana bintang berasal sepanjang masa kosmos," kata Boyle.
"SKA bisa memungkinkan kita melihat bagaimana gas membentuk bintang dan bintang membentuk galaksi. Anda juga bisa melihat beberapa bintang beserta piringan dan material terbentuk di sekitarnya yang akan membentuk planet," lanjut Boyle.
Boyle mengungkapkan, SKA menandai perkembangan fisika pasca-Einstein yang akan membantu manusia untuk membuat langkah memahami obyek-obyek angkasa mengagumkan dan masa tergelap jagat raya.
Meski demikian, Boyle tak mengungkapkan lebih spesifik apa yang akan ditemukan dengan SKA. Ketika ditanya, ia hanya menuturkan, "Jika saya bisa memprediksi, maka kami tak akan sebegitu ambisius."
Teknologi yang dibutuhkan untuk mengembangkan SKA sendiri hingga kini belum ada. Namun, kolaborasi antara ilmuwan dan industri diharapkan bisa menyediakannya dalam jangka waktu lebih cepat.
Kesepakatan pembangunan SKA ditandatangani oleh beberapa negara dalam pertemuan di Roma. Negara yang menandatangani, antara lain Australia, China, Perancis, Jerman, Italia, Selandia Baru, Belanda, Afrika Selatan, dan Inggris.
Totalnya, ada 20 negara yang terlibat pembangunan teleskop ini. Mereka akan membentuk badan perencanaan legal pada pertengahan 2011. Inggris berencana untuk berinvestasi sebanyak 24 juta dollar AS dalam fase lanjut pembangunan SKA.
sumber : sains.kompas.com
Jumat, 01 April 2011
Robot-robot Ampuh yang Melawan Radiasi
Di tengah krisis nuklir yang terjadi di Jepang, robot-robot ampuh berunjuk gigi dan siap melawan radiasi. Beberapa robot didatangkan khusus dari Australia, Amerika Serikat, dan Perancis guna mengatasi permasalahan terkait reaktor di Fukushima.
Mau tahu apa saja robot-robot itu? Ini dia daftarnya:
1. Monirobo (Monitoring Robot)
Monirobo didesain untuk bekerja di lingkungan dengan level radiasi yang terlalu tinggi bagi manusia. Robot seberat 600 kg ini memiliki lengan manipulator untuk menyingkirkan rintangan dan mengambil sampel. Selain itu, robot ini juga dilengkapi detektor radiasi, kamera 3 dimensi, serta sensor temperatur dan kelembaban.
Robot setinggi 1,5 meter ini dikembangkan oleh Pusat Keselamatan Teknologi Nuklir Jepang dan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang setelah peristiwa kecelakaan nuklir Tokaimura pada tahun 1999. Mampu bergerak dengan kecepatan 2,4 km/jam, robot ini memiliki pelindung anti-radiasi yang diperlukan untuk melindungi sensor dan peralatan elektronik yang dimilikinya.
2. Rainbow 5
Robot ini merupakan robot pertama produksi Tokyo Fire Department. Diperkenalkan pada tahun 1986, robot ini sebenarnya merupakan robot penyemprot air dan digunakan saat situasi kebakaran terlalu berbahaya bagi manusia. Robot ini membantu menyemprotkan air dengan selang sepanjang 800 meter langsung ke kolam bahan bakar bekas di reaktor nomor 3 selama 13 jam.
3. 510 Packbots dan 710 Warriors
Kedua robot tersebut dikembangkan oleh iRobot Corporation of Bedford di Massachusetts. Robot ini bisa bergerak lebih lincah daripada Monirobo. Keduanya mampu menaiki tangga, bahkan Warrior mampu menarik selang. Kelemahan dua robot tersebut adalah tak memiliki lapisan pelindung radiasi.
4. ERASE, EROS, dan ERELT
ERASE, EROS, dan ERELT adalah robot-robot yang dikembangkan oleh INTRA (Groupe d'INTervention Robotique sur Accidents). Ketiga robot tersebut khusus dirancang untuk mengatasi kecelakaan nuklir. ERASE memiliki berat 6 ton dan memiliki manipulator hidraulis yang kuat. Adapun EROS dikhususkan untuk operasi di dalam ruangan. Sementara itu, ERELT merupakan robot radio relay yang bisa dikontrol dari jarak beberapa kilometer. Pengiriman robot ini dibatalkan karena Jepang mengatakan belum memerlukannya.
sumber :sains.kompas.com
Mau tahu apa saja robot-robot itu? Ini dia daftarnya:
1. Monirobo (Monitoring Robot)
Monirobo didesain untuk bekerja di lingkungan dengan level radiasi yang terlalu tinggi bagi manusia. Robot seberat 600 kg ini memiliki lengan manipulator untuk menyingkirkan rintangan dan mengambil sampel. Selain itu, robot ini juga dilengkapi detektor radiasi, kamera 3 dimensi, serta sensor temperatur dan kelembaban.
Robot setinggi 1,5 meter ini dikembangkan oleh Pusat Keselamatan Teknologi Nuklir Jepang dan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang setelah peristiwa kecelakaan nuklir Tokaimura pada tahun 1999. Mampu bergerak dengan kecepatan 2,4 km/jam, robot ini memiliki pelindung anti-radiasi yang diperlukan untuk melindungi sensor dan peralatan elektronik yang dimilikinya.
2. Rainbow 5
Robot ini merupakan robot pertama produksi Tokyo Fire Department. Diperkenalkan pada tahun 1986, robot ini sebenarnya merupakan robot penyemprot air dan digunakan saat situasi kebakaran terlalu berbahaya bagi manusia. Robot ini membantu menyemprotkan air dengan selang sepanjang 800 meter langsung ke kolam bahan bakar bekas di reaktor nomor 3 selama 13 jam.
3. 510 Packbots dan 710 Warriors
Kedua robot tersebut dikembangkan oleh iRobot Corporation of Bedford di Massachusetts. Robot ini bisa bergerak lebih lincah daripada Monirobo. Keduanya mampu menaiki tangga, bahkan Warrior mampu menarik selang. Kelemahan dua robot tersebut adalah tak memiliki lapisan pelindung radiasi.
4. ERASE, EROS, dan ERELT
ERASE, EROS, dan ERELT adalah robot-robot yang dikembangkan oleh INTRA (Groupe d'INTervention Robotique sur Accidents). Ketiga robot tersebut khusus dirancang untuk mengatasi kecelakaan nuklir. ERASE memiliki berat 6 ton dan memiliki manipulator hidraulis yang kuat. Adapun EROS dikhususkan untuk operasi di dalam ruangan. Sementara itu, ERELT merupakan robot radio relay yang bisa dikontrol dari jarak beberapa kilometer. Pengiriman robot ini dibatalkan karena Jepang mengatakan belum memerlukannya.
sumber :sains.kompas.com
Kamis, 31 Maret 2011
Reaktor Nuklir Radikal ala China
Krisis nuklir di Jepang belum benar-benar tuntas. Namun, seolah tak peduli dengan bencana yang terjadi, China tetap optimistis mengembangkan teknologi nuklir.
New York Times baru-baru ini melaporkan, China tengah mengembangkan reaktor dengan desain yang radikal dan diklaim lebih aman dibanding jenis lainnya.
Reaktor yang tengah dikembangkan adalah Pebbled-Bed Reactor (PBR) yang merupakan reaktor generasi keempat. Berbeda dengan reaktor umumnya yang menggunakan batang bahan bakar yang masing-masing memiliki 400 pound (sekitar 200 kg) uranium, reaktor yang dikembangkan China tersebut akan menggunakan bahan bakar yang hanya seukuran bola biliar atau diumpamakan sebesar kerikil, karenanya disebut pebbel-bed.
Bagian luar bahan bakar itu memiliki lapisan pelindung berbahan grafit. Lapisan pelindung tersebut berfungsi untuk memastikan bahwa ketika reaktor harus padam karena kondisi darurat, misalnya akibat gempa, reaksi dalam reaktor akan berhenti dengan sendirinya dan tak akan memicu pelelehan atau meltdown.
Inovasi lainnya adalah pada sistem pendingin. Reaktor PBR memilih menggunakan gas hidrogen noneksplosif daripada menggunakan air seperti reaktor tipe BWR Fukushima Daiichi di Jepang. Di samping itu, reaktor yang dikembangkan China dirancang untuk mampu mendistribusikan panas, bahkan jika material pendinginnya tak ada.
Beberapa negara seperti Jerman, Afrika Selatan, dan AS sebenarnya telah mengembangkan reaktor jenis ini. Jerman, misalnya, telah mengembangkan sejak tahun 1960-an. Namun, Jerman akhirnya meninggalkan setelah adanya masalah pebble jammed yang memacu terlepasnya material radioaktif, terjadi hanya 9 hari setelah tragedi Chernobyl.
Merespon rencana China, ilmuwan memiliki pendapat yang berbeda. Pakar nuklir Natural Resources Defense Council Thomas B Cochran mengatakan, "Secara keseluruhan, dalam hal desain, reaktor itu akan lebih aman dengan catatan bahwa keamanan reaktor nuklir bukan hanya tentang fungsi desain, tetapi penanganan reaktor tersebut."
Berkaitan dengan komentar Cochran, para eksekutif yang mengawasi konstruksi pembangunan reaktor baru China mengatakan bahwa para insinyur telah dilatih untuk melakukan pengawasan secara ekstensif memakai sistem yang telah terkomputerisasi. Menggunakan simulator pada reaktor tes yang telah beroperasi selama 10 tahun, dikatakan tak ada kecelakaan.
Sementara itu, pakar nuklir dari Greenpeace International masih mempertanyakan keamanan PBR. Menurutnya, melapisi bahan bakar uranium dengan grafit akan meningkatkan volume limbah radioaktif yang nantinya membutuhkan pembuangan. Meskipun demikian diakui bahwa radioaktivitas limbah per ton lebih rendah dibandingkan bahan bakar yang berbentuk batang.
Bahan bakar berbentuk bola tidak memerlukan penyimpanan khusus. Untuk tahap awal pembuangan, China akan menyimpan bahan bakar di dalam bangunan reaktor. Setelah radioaktivitas lebih rendah, bahan bakar akan disimpan area sekitar reaktor.
Setidaknya, ada satu sebab yang membuat China begitu optimis mengembangkan reaktor nuklir. Pengembangan teknologi nuklir akan mengikis ketergantungan pada bahan bakar fosil. Spesialis studi China dari International Energy Agency Jonathan Sinton mengatakan, "Nuklir adalah satu-satunya yang bisa menyediakan kualitas dan skala listrik yang sama dalam jangka menengah dan panjang."
Perusahaan listrik milik negara China Huaneng Group kini akan membuktikan efektifitas nuklir dengan membangun 2 PBR di dekat wilayah Laut Kuning. Masing-masing dikatakan mampu memenuhi kebutuhan kota berpenduduk 75.000-100.000 orang. Reaktor tersebut diharapkan mampu beroperasi dalam jangka waktu 4 tahun mendatang.
Saat ini, bangunan dasar reaktor telah dibangun di tengah lokasi terpencil, di wilayah bernama Shidao. Kota terdekat dari wilayah pembangunan reaktor tersebut adalah Rongcheng yang memiliki penduduk 1 juta. Peraturan pemerintah China menyebutkan bahwa reaktor mesti dibangun pada jarak 30 mil dari kota terdekat.
Asal tahu, persetujuan pembangunan reaktor nuklir China dalam waktu 5 tahun ke depan disetujui hanya 3 hari setelah tsunami mengakibatkan krisis nuklir di Jepang. Secara kebetulan, persetujuan final pengembangan reaktor PBR kabinet China dan biro energi nasional China juga terjadi 2 minggu sebelum gempa.
Badan keselamatan nuklir China telah melakukan rapat setelah tragedi gempa dan tsunami Jepang serta mengkaji rencana dan persiapan lokasi proyek nuklir Shidao. Xu Yuanhui, tokoh pengembangan reaktor PBR China dan wakil presiden kontraktor pembangunan reaktor ini, mengatakan, "Kesimpulannya jelas bahwa semuanya telah siap untuk memulai menuang cor-coran."
Yuanhui mengatakan bahwa China telah belajar dari kesalahan Jerman dalam mengembangkan PBR, berupaya mencegah pebble jammed, dan meneruskan pembangunan reaktor. Pemerintah China berkomitmen membiayai seluruh riset dan pengembangan reaktor ini dan akan menanggung 30 persen biaya konstruksi.
sumber : sains.kompas.com
New York Times baru-baru ini melaporkan, China tengah mengembangkan reaktor dengan desain yang radikal dan diklaim lebih aman dibanding jenis lainnya.
Reaktor yang tengah dikembangkan adalah Pebbled-Bed Reactor (PBR) yang merupakan reaktor generasi keempat. Berbeda dengan reaktor umumnya yang menggunakan batang bahan bakar yang masing-masing memiliki 400 pound (sekitar 200 kg) uranium, reaktor yang dikembangkan China tersebut akan menggunakan bahan bakar yang hanya seukuran bola biliar atau diumpamakan sebesar kerikil, karenanya disebut pebbel-bed.
Bagian luar bahan bakar itu memiliki lapisan pelindung berbahan grafit. Lapisan pelindung tersebut berfungsi untuk memastikan bahwa ketika reaktor harus padam karena kondisi darurat, misalnya akibat gempa, reaksi dalam reaktor akan berhenti dengan sendirinya dan tak akan memicu pelelehan atau meltdown.
Inovasi lainnya adalah pada sistem pendingin. Reaktor PBR memilih menggunakan gas hidrogen noneksplosif daripada menggunakan air seperti reaktor tipe BWR Fukushima Daiichi di Jepang. Di samping itu, reaktor yang dikembangkan China dirancang untuk mampu mendistribusikan panas, bahkan jika material pendinginnya tak ada.
Beberapa negara seperti Jerman, Afrika Selatan, dan AS sebenarnya telah mengembangkan reaktor jenis ini. Jerman, misalnya, telah mengembangkan sejak tahun 1960-an. Namun, Jerman akhirnya meninggalkan setelah adanya masalah pebble jammed yang memacu terlepasnya material radioaktif, terjadi hanya 9 hari setelah tragedi Chernobyl.
Merespon rencana China, ilmuwan memiliki pendapat yang berbeda. Pakar nuklir Natural Resources Defense Council Thomas B Cochran mengatakan, "Secara keseluruhan, dalam hal desain, reaktor itu akan lebih aman dengan catatan bahwa keamanan reaktor nuklir bukan hanya tentang fungsi desain, tetapi penanganan reaktor tersebut."
Berkaitan dengan komentar Cochran, para eksekutif yang mengawasi konstruksi pembangunan reaktor baru China mengatakan bahwa para insinyur telah dilatih untuk melakukan pengawasan secara ekstensif memakai sistem yang telah terkomputerisasi. Menggunakan simulator pada reaktor tes yang telah beroperasi selama 10 tahun, dikatakan tak ada kecelakaan.
Sementara itu, pakar nuklir dari Greenpeace International masih mempertanyakan keamanan PBR. Menurutnya, melapisi bahan bakar uranium dengan grafit akan meningkatkan volume limbah radioaktif yang nantinya membutuhkan pembuangan. Meskipun demikian diakui bahwa radioaktivitas limbah per ton lebih rendah dibandingkan bahan bakar yang berbentuk batang.
Bahan bakar berbentuk bola tidak memerlukan penyimpanan khusus. Untuk tahap awal pembuangan, China akan menyimpan bahan bakar di dalam bangunan reaktor. Setelah radioaktivitas lebih rendah, bahan bakar akan disimpan area sekitar reaktor.
Setidaknya, ada satu sebab yang membuat China begitu optimis mengembangkan reaktor nuklir. Pengembangan teknologi nuklir akan mengikis ketergantungan pada bahan bakar fosil. Spesialis studi China dari International Energy Agency Jonathan Sinton mengatakan, "Nuklir adalah satu-satunya yang bisa menyediakan kualitas dan skala listrik yang sama dalam jangka menengah dan panjang."
Perusahaan listrik milik negara China Huaneng Group kini akan membuktikan efektifitas nuklir dengan membangun 2 PBR di dekat wilayah Laut Kuning. Masing-masing dikatakan mampu memenuhi kebutuhan kota berpenduduk 75.000-100.000 orang. Reaktor tersebut diharapkan mampu beroperasi dalam jangka waktu 4 tahun mendatang.
Saat ini, bangunan dasar reaktor telah dibangun di tengah lokasi terpencil, di wilayah bernama Shidao. Kota terdekat dari wilayah pembangunan reaktor tersebut adalah Rongcheng yang memiliki penduduk 1 juta. Peraturan pemerintah China menyebutkan bahwa reaktor mesti dibangun pada jarak 30 mil dari kota terdekat.
Asal tahu, persetujuan pembangunan reaktor nuklir China dalam waktu 5 tahun ke depan disetujui hanya 3 hari setelah tsunami mengakibatkan krisis nuklir di Jepang. Secara kebetulan, persetujuan final pengembangan reaktor PBR kabinet China dan biro energi nasional China juga terjadi 2 minggu sebelum gempa.
Badan keselamatan nuklir China telah melakukan rapat setelah tragedi gempa dan tsunami Jepang serta mengkaji rencana dan persiapan lokasi proyek nuklir Shidao. Xu Yuanhui, tokoh pengembangan reaktor PBR China dan wakil presiden kontraktor pembangunan reaktor ini, mengatakan, "Kesimpulannya jelas bahwa semuanya telah siap untuk memulai menuang cor-coran."
Yuanhui mengatakan bahwa China telah belajar dari kesalahan Jerman dalam mengembangkan PBR, berupaya mencegah pebble jammed, dan meneruskan pembangunan reaktor. Pemerintah China berkomitmen membiayai seluruh riset dan pengembangan reaktor ini dan akan menanggung 30 persen biaya konstruksi.
sumber : sains.kompas.com
Pesawat Listrik Pertama Sukses Terbang
Pesawat listrik sukses melakukan penerbangan yang pertama kali dan memenangi CAFE Green Flight Challenge yang diadakan NASA. Elektra One yang dikembangkan Calin Gologan itu diuji pertama kali oleh pilot Jon Karkow.
Pesawat ini terbang tanpa menggunakan bensin karena 100 persen menggunakan tenaga listrik, dan baru-baru ini pesawat tersebut telah dicoba di Jerman. Untuk pertama kalinya pada Rabu (23/3/2011), Elektra One melayang selama 30 menit. Pesawat dengan awak tunggal itu terbang setinggi 500 meter di udara. Penerbangan itu sangat sunyi karena peran dari motor listrik yang hanya menghabiskan setengah baterai 6 kWh.
Menurut PC-Aero, performa tinggi dari baterai yang dapat diisi ulang itu memberikan ketahanan pesawat untuk terbang lebih dari tiga jam, jarak lebih dari 400 km, dengan kecepatan 160 km per jam. Berat bersih dari pesawat listrik ini sebesar 100 kg dengan berat maksimum yang dapat ditampung sebesar 300 kg.
Minggu berikutnya, Elektra One akan mendapatkan baling-baling dengan variabel baru dan roda landas yang dapat ditarik. Tambahan peralatan ini akan memberikan performa yang lebih baik untuk pesawat listrik ini.
Pesawat hemat energi ini diharapkan akan komersil dengan harga kurang dari 100.000 euro atau sekitar Rp 12 miliar.
Pesawat Elektra One yang diciptakan oleh PC-Aero ikut berkompetisi dan memenangi CAFE Green Flight Challenge yang diadakan NASA. Pertandingan ini bertujuan menciptakan sebuah pesawat terbang yang mampu terbang sejauh 200 mil kurang dari dua jam, menggunakan energi yang setara dengan kurang dari satu galon bensin per penumpang.
sumber : sains.kompas.com
Pesawat ini terbang tanpa menggunakan bensin karena 100 persen menggunakan tenaga listrik, dan baru-baru ini pesawat tersebut telah dicoba di Jerman. Untuk pertama kalinya pada Rabu (23/3/2011), Elektra One melayang selama 30 menit. Pesawat dengan awak tunggal itu terbang setinggi 500 meter di udara. Penerbangan itu sangat sunyi karena peran dari motor listrik yang hanya menghabiskan setengah baterai 6 kWh.
Menurut PC-Aero, performa tinggi dari baterai yang dapat diisi ulang itu memberikan ketahanan pesawat untuk terbang lebih dari tiga jam, jarak lebih dari 400 km, dengan kecepatan 160 km per jam. Berat bersih dari pesawat listrik ini sebesar 100 kg dengan berat maksimum yang dapat ditampung sebesar 300 kg.
Minggu berikutnya, Elektra One akan mendapatkan baling-baling dengan variabel baru dan roda landas yang dapat ditarik. Tambahan peralatan ini akan memberikan performa yang lebih baik untuk pesawat listrik ini.
Pesawat hemat energi ini diharapkan akan komersil dengan harga kurang dari 100.000 euro atau sekitar Rp 12 miliar.
Pesawat Elektra One yang diciptakan oleh PC-Aero ikut berkompetisi dan memenangi CAFE Green Flight Challenge yang diadakan NASA. Pertandingan ini bertujuan menciptakan sebuah pesawat terbang yang mampu terbang sejauh 200 mil kurang dari dua jam, menggunakan energi yang setara dengan kurang dari satu galon bensin per penumpang.
sumber : sains.kompas.com
Ke Mars Pakai Pesawat Berbahan Bakar Air
Perjalanan ke luar angkasa, termasuk Mars, nantinya mungkin akan jauh lebih murah. Pasalnya, ilmuwan kini mengembangkan pesawat berbahan bakar air. Dengan pesawat tersebut, ongkos ke Mars pergi pulang bisa semurah biaya peluncuran satu pesawat saja.
Idenya adalah mempertahankan pesawat berbahan bakar air ini tetap ada dalam orbit rendah bumi. Dengan cara ini, manfaat yang akan diperoleh lebih besar. Cara ini bisa mengurangi kebutuhan mahal yang diperlukan untuk meluncurkan misi dari Bumi.
Saat ini, pesawat itu memang masih ada dalam konsep. Namun, ilmuwan percaya sebentar lagi bisa terwujud. Brian McConnell, teknopreneur dan perekayasa perangkat lunak, mengatakan, "Ini benar-benar tantangan dalam integrasi sistem. Fundamental teknologinya sebenarnya sudah siap."
Konsep dasar pesawat tersebut adalah berpusat pada air dan didorong oleh air. Mesin elektrotermal bertenaga surya akan memanaskan air hingga temperaturnya sangat tinggi dan berubah wujud menjadi uap. Akhirnya, uap yang dikeluarkan akan membentuk gaya dorong yang membantu mengangkat pesawat.
McDonnel mengatakan, mesin elektrotermal yang digunakan dalam pesawat ini efisien dan cocok digunakan untuk perjalanan jangka panjang dengan gaya dorong rendah. Untuk melayani penambahan kecepatan secara cepat, bahan kimia roket bisa ditambahkan.
Bagian dalam pesawat terdiri dari modul habitat yang saling terhubung. Modul tersebut bisa dikembangkan kapan saja dan terbuat dari bahan produksi pabrik. Air juga terdapat satu paket di sepanjang modul habitat sehingga bisa berfungsi sebagai pelindung radiasi.
Pesawat berbahan bakar air lebih murah karena beberapa faktor. Pertama adalah penggunaan mesin elektrotermal. Kedua, penggunaan air sebagai bahan bakar membuat hampir semua bagian pesawat recyclable. Air yang digunakan sebagai pelindung radiasi juga bisa dipakai sebagai bahan bakar.
"Seluruhnya bisa mengurangi biaya sebesar 30 kali lebih kecil atau lebih," kata McDonnel. Perjalanan menuju Phobos, bulan Mars misalnya, bisa hanya dengan 1 miliar dollar AS. Perjalanan juga akan nyaman karena pesawat bisa membawa sejumlah iar yang bisa dipakai untuk menumbuhkan tanaman pangan dan mandi air panas.
Ketika pesawat membutuhkan bahan bakar tambahan, maka pengisian bisa dilakukan di orbit rendah bumi. Bagian pesawat bisa pula diganti ataupun di-upgrade dari orbit. McDonnel juga mengatakan, di masa depan air sebagai bahan bakar bisa juga diperoleh dari asteroid dan bulan Mars.
Konsep yang dipromosikan McDonnel dipublikasikan di Journal of the Bristish Interplanetary Society. Salah satu PR yang belum terselesaikan untuk mengembangkan pesawat ini adalah desain mesin elektrotermal. Menurut McDonnel, upaya mempercepat penyelesaian bisa dilakukan dengan mengadakan kompetisi.
sumber :sains.kompas.com
Idenya adalah mempertahankan pesawat berbahan bakar air ini tetap ada dalam orbit rendah bumi. Dengan cara ini, manfaat yang akan diperoleh lebih besar. Cara ini bisa mengurangi kebutuhan mahal yang diperlukan untuk meluncurkan misi dari Bumi.
Saat ini, pesawat itu memang masih ada dalam konsep. Namun, ilmuwan percaya sebentar lagi bisa terwujud. Brian McConnell, teknopreneur dan perekayasa perangkat lunak, mengatakan, "Ini benar-benar tantangan dalam integrasi sistem. Fundamental teknologinya sebenarnya sudah siap."
Konsep dasar pesawat tersebut adalah berpusat pada air dan didorong oleh air. Mesin elektrotermal bertenaga surya akan memanaskan air hingga temperaturnya sangat tinggi dan berubah wujud menjadi uap. Akhirnya, uap yang dikeluarkan akan membentuk gaya dorong yang membantu mengangkat pesawat.
McDonnel mengatakan, mesin elektrotermal yang digunakan dalam pesawat ini efisien dan cocok digunakan untuk perjalanan jangka panjang dengan gaya dorong rendah. Untuk melayani penambahan kecepatan secara cepat, bahan kimia roket bisa ditambahkan.
Bagian dalam pesawat terdiri dari modul habitat yang saling terhubung. Modul tersebut bisa dikembangkan kapan saja dan terbuat dari bahan produksi pabrik. Air juga terdapat satu paket di sepanjang modul habitat sehingga bisa berfungsi sebagai pelindung radiasi.
Pesawat berbahan bakar air lebih murah karena beberapa faktor. Pertama adalah penggunaan mesin elektrotermal. Kedua, penggunaan air sebagai bahan bakar membuat hampir semua bagian pesawat recyclable. Air yang digunakan sebagai pelindung radiasi juga bisa dipakai sebagai bahan bakar.
"Seluruhnya bisa mengurangi biaya sebesar 30 kali lebih kecil atau lebih," kata McDonnel. Perjalanan menuju Phobos, bulan Mars misalnya, bisa hanya dengan 1 miliar dollar AS. Perjalanan juga akan nyaman karena pesawat bisa membawa sejumlah iar yang bisa dipakai untuk menumbuhkan tanaman pangan dan mandi air panas.
Ketika pesawat membutuhkan bahan bakar tambahan, maka pengisian bisa dilakukan di orbit rendah bumi. Bagian pesawat bisa pula diganti ataupun di-upgrade dari orbit. McDonnel juga mengatakan, di masa depan air sebagai bahan bakar bisa juga diperoleh dari asteroid dan bulan Mars.
Konsep yang dipromosikan McDonnel dipublikasikan di Journal of the Bristish Interplanetary Society. Salah satu PR yang belum terselesaikan untuk mengembangkan pesawat ini adalah desain mesin elektrotermal. Menurut McDonnel, upaya mempercepat penyelesaian bisa dilakukan dengan mengadakan kompetisi.
sumber :sains.kompas.com
Langganan:
Postingan (Atom)
















